Dalam Ingatan Tentang Kakek

Adi memacu gas motor kesayangannya tanpa belas kasih. Mesin motornya berteriak kencang. Angin malam menjadi temannya di sepanjang jalan. Jaket jeans membalut badannya, yang kata teman-teman Adi, seperti tinggal tulang.

Saat itu hari sudah gelap. Jalan Raya Margonda, Depok tampak lengang. Hanya ada beberapa pengemudi ojek daring dan mobil-mobil pikap yang menjajakan tahu bulat nan hangat di pinggir jalan.

“Aku harus cepat sampai rumah,” Adi membatin.

Sejauh ini, ia sudah berkendara sekitar 40 kilometer dari barat kota Jakarta. Motor yang ia kendarai sebenarnya sudah layak untuk masuk “museum”. Maklum, peninggalan dari sang kakek di Magelang. Jadi, betul-betul ia rawat betul.

Ia mengingat sekali apa kata kakeknya.

“Nduk, mbah kepingin motor iki diopeni. Ben, anakmu iso nganggo motor iki. (Dek, kakek mau motor ini diurus. Supaya, anak kamu bisa pakai motor ini),” kata Mbah Padmo, kakek Adi sebelum meninggal pada tahun 2010.

“Njih, Mbah (Iya, mbah),” balas Adi.

Mbah Padmo dulu sering naik motor tua itu. Bukan sembarang motor. Motor Mbah Padmo adalah motor kenangan semasa hidupnya. Honda CB 100 keluaran tahun 1970 itu motor Mbah Padmo. Kelir merah marun warnanya.

“Mbah ketemu Mbah Uti jaman biyen ning Alun-Alun Kota Magelang. Cedak water toren iku, Di. Kuwi wis ono kiro-kiro jak jaman Londo. Lah, montor e yo CB iki (Kakek ketemu nenek jaman dulu di Alun-Alun Kota Magelang. Deket water toren itu. Lah, motornya ya CB ini),” ujar Mbah Padmo saat Adi mengingat ucapan kakeknya.

Cerita kakek Adi terus lekat di ingatan.

*

Beberapa waktu sebelumnya, Adi pergi ke sebuah kafe di bilangan Cipete, Jakarta. Kafe dengan model kekinian. Ia datang bersama dua orang rekannya.

“Di, udah lama nunggu?,” kata Andaru sambil menepuk bahu Adi.

“Belum, kok, Ru,” jawab Adi.

Mereka duduk berhadapan. Seorang pelayan datang menghampirinya. Dia berseragam serba hitam dengan sebuah kain tenun melingkar di lehernya.

Sang pelayan menyodorkan selembar daftar menu.

“Pesan apa?”

“Saya ice latte dan kentang goreng,”

“Baik. Ditunggu ya, Mas,”

Adi melanjutkan obrolannya dengan Andaru. Alunan musik bossanova menemani mereka. Bangku-bangku lain juga terlihat terisi.  Kebetulan, kafe tempat mereka nongkrong adalah lokasi yang strategis dan terlaris di layanan pesan antar oleh ojek daring.

“Kakek lo apa kabar, Ru?”

“Sehat, Di. Kemarin gw abis main ke Yogya. Kakek gw kadang masih suka ke Candi Borobudur,”

“ooohh, syukur kalo gitu Di,” ujar Adi sambil menunduk.

Andaru sempat bingung. Sangat jarang Adi bertanya ihwal kakek Andaru. Paling banter, Adi suka menanyakan kabar ibu Andaru.

Mereka adalah karib lama. Sedari di sekolah dasar, Adi dan Andaru telah bermain bersama. Mereka dulu bersekolah di SDN 03 Pagi Gandaria Utara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Mereka bercengkerama hingga larut malam. Segelas ice latte dan kentang goreng menjadi cemilan pengantar.

Lalu, Adi pamit untuk pulang. Andaru pun pulang. Mereka berpisah di perempatan Jalan Raya Pondok Labu. Andaru menuju Ciputat dan Adi ke arah Depok.

*

Derit alarm jam memekakkan telinga Adi. Ia segera meloncat dari tempat tidurnya. Kamar mandi adalah tujuannya.

“Gawat nih. Bisa telat nih gw. Mana dosennya galak lagi,”

Hari itu Adi harus mengikuti kuliah Sejarah Kolonial. Mata kuliah tersebut harus masuk tepat waktu. Adi harus tiba di Universitas Indonesia pukul 08.00 WIB. Sementara, jam telah menunjukkan pukul 07.30 WIB ketika ia bangun dari lelap.

Perjalanan dari rumahnya menuju kampus memakan waktu lebih kurang 15 menit. Ia langsung mandi koboi.  Rambutnya yang rada gondrong itu, ia sisir dengan cekatan.

Brum..brumm..

Adi membetot gasnya menuju kampus.

Ternyata ia terlambat 20 menit. Kelasnya sudah dimulai. Dosennya memberikan hukuman untuk Adi yakni menceritakan tentang subyek kuliahnya.

“Kakek saya dulu membantu Jenderal Soedirman di Magelang. Dulu ia kasih makanan ke tentara-tentara gerilya. Pak Dirman juga pernah menginap di rumah kakek buyut saya,” ucap Adi bersemangat di depan teman-temannya.

*

“Di, cerita lo tadi seru deh,” kata Syifa, rekan perempuannya di kantin.

“Iya, Fa. Kebetulan kakek gw pejuang,”

“Lo masih sempet ketemu kakek?, ”

” Masih, Fa. Bulan puasa 7 tahun yang lalu. Kakek gw sekarang dimakamin di Magelang,”

“Oh,”

Mereka berbincang hingga jelang magrib. Kantin siang itu tak terlalu penuh. Seperti biasa banyak yang duduk,  tertawa, dan juga bermain kartu di beberapa meja.

“Gw harus pergi, Fa. Ada urusan sebentar,”

“Oke, Di. Hati-hati. Kabarin lagi ya,” kata Syifa sambil menepuk pundak Adi.

*

Di samping Adi, duduk seorang laki-laki berambut putih total. Badannya kering kerontang. Orang-orang berlalu lalang tanpa henti. Sang kakek hanya duduk sambil memegangi perutnya. Matanya nanar. Mulutnya terdiam membisu.

Adi saat itu tengah berada di Kawasan Kota Tua. Kebetulan, ia mendapat pekerjaan tambahan untuk menulis tentang wisata Kota Tua.

“Kakek, sudah makan?,”

“Belum, De. Masih menunggu cucu lagi pergi main. Katanya nanti mau bawa makan,”

Sebenarnya, Adi mesti melanjutkan tugasnya. Namun, ia pergi ke sebuah warung kecil untuk membelikan kakek itu roti dan teh manis hangat.

Suasana di Kota Tua tetiba riuh. Semua orang berkumpul di tengah pelataran area yang dulu pernah dikuasai oleh Belanda. Tetiba aparat berseragam coklat juga merapat ke tempat ia persis duduk tadi.

“Ada apa, Pak?” tanya Adi sambil memegang kantong plastik berisi roti dan teh manis hangat.

“Itu ada kakek-kakek meninggal, Dek,”

Bak petir di siang bolong, Adi tersentak. Ternyata kakek yang meninggal itu adalah yang tadi berbincang dengannya. Adi terguncang. Ia tak menyangka dalam hitungan kurang dari setengah jam, ia telah berpisah dengan kakek itu.

Air matanya mengalir. Lidahnya kelu. Tangannya gemetar. Kebingungan melanda dirinya. Sementara, semua orang masih berkerumun. Polisi masih mengamankan sekitar tempat kejadian perkara sambil menunggu pihak rumah sakit untuk datang. Cucunya pun juga belum datang.

Sungguh. Adi tak kuasa melihat peristiwa itu. Lalu, ia melangkah menuju tempat motornya diparkir.

Adi teringat bahwa esok hari harus pergi ke Magelang. Ia bersama orang tuanya akan menziarahi makam kakeknya. Keretanya akan berangkat pada pukul 07.00 WIB dari Stasiun Pasar Senen. Sawunggalih Pagi nama keretanya. Momen itu tepat pada hari Lebaran.

Adi masih teringat betul bagaimana percakapan dengan seorang kakek tua itu. Sosok kakek itu terus membayang di kepala Adi selama perjalanan menuju Depok.

Ia langsung tancap gas dengan motor tuanya itu.

“Kakek, aku besok datang ke kampung halaman. Makammu pasti sudah kotor, Kek,”

Hujan Bulan November

Semua kini bersorak. Tangan ditengadahkan ke langit. Syukur terucap dari kaum-kaum yang nestapa yang bak kamar mandinya tak terisi. Tanah gembur kembali sediakala. Air sungai mulai meninggi. Anak-anak bisa menemukan hiburan nan murah. Ya, sekarang sudah mulai hujan. Aku mulai merasakan air turun dari langit dan beringas menghajar wajah.

Awal November, cerita itu dimulai. Kabar mulai tersiar ke penjuru nusantara. Bahwasanya hujan telah mengurangi jumlah titik api di hutan-hutan gambut dilahap api yang tak bertanggung jawab. Asap mulai menipis. Warga bisa menghirup udara segar. Aku adalah orang yang hanya dapat tersenyum kembali mendengar berita baik ini. Aku rasa kamu pun juga demikian. Mari kita bergembira. Pak tani di desa-desa yang jarang kita temui pasti tersenyum pada pagi hari ketika mulai mengunjungi sawah.

Sapardi pernah menuliskan sebuah puisi berjudul “Hujan Bulan Juni”. Ia menggambarkan tentang ketabahan, kearifan, dan bijaknya hujan bulan Juni. Bahwa jejaknya terhapus di jalan, rindunya dirahasiakan kepada bunga, dan terserap oleh akar pohon. Saat ini demikian, hujan bulan November. Ia pun mulai meninggalkan jejak-jejak nanti akan hilang yang terserap. Di tanah, hujan akan kembali menyuburkan. Ia pun akan mengisi ruang-ruang tanah dan bersiap kembali dihisap oleh mesin-mesin milik manusia.

Hari Minggu (1/11/2015) lalu, Depok diguyur hujan. Mulanya, rintik-rintik tapi kemudian langit langsung menumpahkan seluruh isinya. Semua yang berkendara dengan motor mengurangi laju dan lalu menepi ke pinggir jalan. Mereka turun dan lalu berteduh. Beda dengan pengendara mobil. Sementara aku terus membelah aspal kembali menuju singgasana. Dengan Nanu yang setia menemani setiap hari. Kali ini, Nanu pertama kali bermandi ria di tengah hujan. Dia tampak senang. Ia tak pundung di tengah hujan.

Saat melintas di Universitas Indonesia pada hari Senin (2/11/2015), hujan turun deras. Aku sebentar berteduh di Fakultas Hukum. Beberapa mahasiswa keluar dengan payung menembus hujan. Aku tak mau kehujanan. Berteduh adalah pilihan yang tepat. Sebatang rokok aku nyalakan untuk menemani dinginnya malam. Dua tiga pesan muncul di layar handphone saya. Tertulis bahwa pesan di Kalibata, Sudirman, Semanggi juga turun hujan. Aku pun ikut mengabarkan jika di Universitas Indonesia juga turun hujan.

Tak sabar aku menunggu hujan. Namun seseorang tetap mengingatkanku untuk tetap berteduh agar tak kehujanan. Ia tampak khawatir dengan kondisiku. Ah tenang saja, aku baik-baik saja. Buktinya, aku masih bisa menulis. Rasa-rasanya, kesabaranku mulai habis. Aku putuskan untuk merobek tirai-tirai hujan. Air dari langit siap menampar dan menghantamku. Niat tetap bulat. Aku pergi menyusuri jalan melewati Fakultas Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Fakultas Ekonomi hingga Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (Pusgiwa) Universitas Indonesia. Jam menunjukkan pukul 22.00.

Lama aku tak mandi hujan. Di sepanjang jalan, air nan deras kerap menutup wajahku. Mataku tak bisa melihat. Kupacu Nanu untuk segera melaju. Ia berteriak kencang. Roda-roda motorku berputar cepat. Knalpotku menggelegar. Dapur pacu Nanu bersahutan. Kubelokkan stang motor menuju Pusgiwa. Aku tiba di Sekretariat Mapala UI. Aku basah kuyup. Aku senang bisa selamat sampai tujuan. Sesuai dengan doa dari seseorang yang kusayang. Terima kasih ya. Hujan ini pertanda rindumu datang. Hujan Bulan November ini adalah kisah pertama kita berdua. Semoga tetap teduh dan wangi petrichor tetap bisa kita cium berdua.

Depok, 2 November 2015. Ketika hujan makin sering turun dan masih menunggu reda.

 

 

Satu Bulan

Kita pernah berikrar untuk saling berjauhan. Ingatkah kamu waktu itu? Baru satu hari berlalu, kamu menghubungiku lagi. Ya, kita kembali bertemu di sebuah mall di kota yang terkenal dengan buah belimbing. Lalu, kita bersama memasuki gedung kaca yang sarat akan hiburan. Sebuah film kisah nyata berjudul “Everest” menjadi santapan.

Kita kembali berbincang, tertawa, dan berjalan bersama juga bergandengan tangan. Semua peristiwa itu masih lekat di benak. Pada akhir bulan Juli lalu pun aku masih ingat. Kala Menteri Pariwisata Arief Yahya sedang diserbu oleh para kuli tinta. Betul, termasuk aku juga. Di sana, senyum simpulmu berhasil mengikat pandanganku.

Setiap pagi, kita selalu menyapa. Entah kamu atau aku terlebih dulu. Kamu sudah berangkat, kadang aku masih terlelap. Begitu sebaliknya. Kita masih bergantung pada deret huruf dan angka yang bersatu membentuk kata dan agenda. Kamu belum sarapan. Susah ya buat sarapan. Oh iya, kamu kan susah makan nasi. Kamu sampai di Depok, aku pergi menuju ke Jakarta. Kita masih berbeda.

Waktu terasa cepat berlalu. Aku tenggelam dalam kesibukan. Kamu terhempas kepadatan. Hanya barisan kata yang mampu tertulis di layar kaca telepon genggam yang terlihat. Namun, suara kita juga merasuki telinga. Terkadang foto juga menjadi pelipur lara. Waktu berjumpa hanya sekelebatan mata. Apalagi kemarin, hampir dua minggu lamanya aku tak berada di kota-kota yang menjadi tempat pertemuan kita.

Dalam hati, hanyalah doa yang terucap. Semoga kita baik-baik saja. Kita dapat selalu tertawa dan terus berjuang. Demi masa depan yang sudah menunggu. Setiap fajar, siang, sore, dan malam kita terus terjaga. Dalam perjalanan hidup, kita meminta. Pada-Nya, kita memohon. Dia tak tidur. Selalu mendengar dan melihat. Walaupun hamba-Nya terlelap. Seperti sekarang yang kamu lakukan. Tidur.

Kemarin, tepatnya pukul 13.30 WIB, kita kembali bertemu. Setelah lama aku pergi. Menariknya, kita melakukan di tempat yang sama. Dengan aktifitas yang sama tapi dengan film yang berbeda. Kali ini film The Last Witch Hunter yang baru dirilis kemarin lusa, 23 Oktober 2015. Film yang dibintangi Vin Diesel dan bercerita tentang pemburu penyihir berlatar tempat di New York. Kita terpana dan bertanya-tanya “siapakah Kaulder ini?” di sudut kursi bioskop dengan urutan L. Ah filmnya seru ya. Sebelumnya, kita juga nonton video perjalanan Chulu West-nya anak Mapala UI di Pusgiwa. Lumayan nontonnya.

Setelah film berakhir, kita pergi ke lorong jalan Kober membeli kabel data iPhone. Kalau tidak beli, tak mungkin tulisan ini selesai dan diunggah di blogku yang usang. Lagipula, hari ini aku juga mesti bekerja. Hanya telepon tenggam berlogo buah apel ini andalanku. Maklum, laptopku sedang rusak. Kita kembali bergegas. Bekasi adalah tujuan akhirnya.

Kamu sempat tertidur ketika Nanu meninggalkan Tanjung Barat dan memasuki Pasar Minggu. Aku dan Nanu memelankan laju supaya kamu bisa terlelap. Maafkan aku dan Nanu. Lain waktu kita pergi dengan lebih nyaman ya. Kita sempat berhenti di sebuah masjid di daerah Pasar Minggu Baru. Sebentar kita menghadap-Nya. Namun perut mulai lapar. Kita kembali melaju menuju Duren Sawit, jalan potong menuju Pulo Gadung. Kamu bilang aku hapal jalan. Jalan itu adalah rute menuju rumah saudaraku. Jadi aku bisa hapal.

Kota Harapan Indah sudah mulai dekat. Tetiba kamu mabuk. “Aku mual. Mungkin karena naik motor,” keluh kamu. Kok bisa ya? Sungguh bertolak belakang. Aku malah mabuk jika naik mobil. Sedikit lagi sampai kok. Nanu bergerak lincah. Kamu keheranan. Kan perut sudah mulai lapar. Rencananya, kita akan menikmati makanan di sebuah kedai berkonsep warung kopi. Namun, karena ramai kita pindah ke tenda kecil warung yang menghidangkan makanan laut. Kita langsung melahap nasi goreng, indomie rebus, roti bakar, dan teh manis. Kenyang.

Terima kasih ya. Sebulan sudah kita bersama. Saling mengisi hari-hari. Tersenyum bersama. Walau kadang kekurangan masih tampak sana-sini. Kita instropeksi dan mencari solusi. Tujuannya supaya lebih baik. Sekarang hari ke-31. Kamu mengirimkan pesan panjang. Di salah satu bagian akan menungguku sampai di rumah. Namun, nyatanya kamu sudah tidur. Pasti kamu lelah. Biarlah kamu menjadi penjelajah mimpi seperti di film tadi. Tapi, cukup kenangan yang baik saja ya. Kita akan selalu berjalan bersama. Mudah-mudahan ya. Semoga Dia mengizinkan. Selamat pagi.

Depok, 25 Oktober 2015. Sebulan perjalanan bersamamu.

Mampus

Mampus kau
Salah siapa kau mengusikku
Aku adalah penguasa
Menjalari setiap jengkal bumi
Kerap menghantui kalbu
Selalu membayangi hari-harimu
Aku berjalan di lorong-lorong gelap
Dari gedung tinggi hingga gang-gang kumuh
Tempat dingin dan juga lembap

Aku bisa bertemu presiden
Rakyat kecil juga aku sambangi
Dari direktur hingga pengangguran
Siapapun kamu akan kulibas
Kutabrak
Kulindas
Kutendang
Kulempar
Kuremas
Kupukul
Ah, sudahlah
Berdamailah denganku
Siapapun kamu

Aku adalah rindu

Saat bertemu dengan rindu, Depok 4 Oktober 2015

Mie Ayam dan Majalah

Mie ayam dan majalah adalah dua hal yang menjadi kombinasi yang sempurna malam ini. Bagaimana mungkin bisa? Majalah adalah bacaan, sementara mie ayam adalah makanan. Yang pertama untuk rohani dan yang kedua adalah untuk jasmani. Yang pertama untuk menambah pengetahuan, yang kedua untuk membuat kenyang.

Untuk pilihan rasa mie ayam, rata-rata semua penjual menawarkan dua pilihan yaitu kering dan basah. Pilihan basah menggunakan kuah dan pilihan kering atau biasa dikenal dengan nama yamin, tanpa kuah dan menggunakan kecap tambahan. Sementara majalah, dalam segi penyajian juga terdapat dua pilihan yaitu tercetak dan digital. Pilihan tercetak dapat dipegang secara utuh dan dibaca langsung, dan pilihan digital, tak dapat disentuh dan memerlukan alat bantu berupa gawai.

Namun, hari ini dua hal tersebut sangat berbeda walaupun sudah sangat familiar di sekitar saya. Yang membuat berbeda adalah objek yang melakukannya. Adalah dia yang mengalaminya. Juga saya tentunya. Ya, kami berdua. Kami duduk bersama di sebuah pelataran suatu tempat di mana Dian Sastrowardoyo berkuliah dulu. Juga tempat Fadli Zon menimba ilmu hingga sekarang ia bisa menjadi politisi papan atas Indonesia. Perbincangan tentang mie ayam dan majalah terasa begitu bermakna.

Sejak minggu lalu, rencana ini sudah kami buat. Semua berawal dari tugas mencari majalah. Dia mendapatkan tugas untuk mencari majalah internal maupun eksternal terbitan pemerintah atau perusahaan. Kebetulan saya memiliki beberapa majalah tersebut. Disusunlah rencana untuk berjumpa. Rencana itu berlanjut menjadi janji. Janji bertemu selepas studi yang dia lakukan.

Dari awal pertemuan, saya menjadi tahu kalau dia takut dengan anjing. Bahkan anjing yang sudah jinak. Dia sempat menghindar. Raut wajahnya memancarkan rasa takut. “Tenang. Gak gigit kok. Sudah jinak ini si Pus-Pus,” kata saya. “Enggak ah. Kan haram,” jawabnya. Ia bersembunyi di balik pagar. Sebelumnya di kamar mandi. Lucu ya. Saya juga takut sih. Tapi tak separah itu. Kalau anjing-anjing lain baru saya takut. Apalagi kalau sampai mengejar. Kadang saya membawa batu untuk dilemparkan ke anjing yang mengejar saya.

Pelataran tempat saya duduk saat ini telah banyak berubah. Dulu, waktu saya masih berkuliah, banyak mahasiswa yang duduk bercengkerama di sini. Mulai dari membahas kuliah, unit kegiatam mahasiswa, aksi-aksi berbentuk demo, acara-acara fakultas, atau cuma jadi tempat ajang pendekatan mahasiswa incaran. Namun tak jarang juga tempat ini digunakan menjadi tempat doktrinisasi aneka ideologi. Kalau dulu, saya hanya makan dan bersantai saja sambil makan gorengan, minum kopi, dan menghisap sebatang rokok.

Saya kali ini banyak bercerita tentang keluarga. Perbincangan bergulir tentang adik saya yang kini juga belum mengecap dunia perkuliahan. Dia cukup keheranan. “Dia senengnya apa emang?,” kata dia. “Ya, udah milih sih tapi gak lulus juga,” jawab saya. Lalu, berganti dengan majalah. Ia menceritakan tentang tugasnya. Menurut saya, tugasnya menarik. Ia mengambil salah satu topik yang belum pernah diambil. Satu pilihan yang jitu. Dunia menulis memang menarik untuk digeluti. Bagi saya, ucapan dari Pramoedya Ananta Toer kerap membayangi benak tiap hari.

Malam semakin larut. Mie ayam dan majalah sudah habis dilahap. Secarik uang kertas keluar dari celana jeans berwarna biru. “Matur nuwun nggeh, Bu,” ucap saya dengan bahasa Jawa yang kental. Kami berlalu. Jalan akan berganti rel. Dari motor menjadi kereta. Dari selatan menuju timur. Dari kesunyian menjadi keramaian. Dari udara malam menjadi pendingin ruangan. Namun asa masih tetap sama. Satu pengemudi yang menjalankan. Sekarang sudah pagi. Waktunya pulang. Besok masih harus ke Palmerah. Ia pun masih harus ke Depok.

Universitas Indonesia, 7 September 2015
Perjumpaan yang dinantikan

Si Nanu

Beberapa minggu lalu, saya berkenalan dengan sahabat baru. Ia berbadan kecil, suka berbaju merah, gesit, dan bertenaga. Kegesitannya membuat saya terkesan. Secara umur, dia terpaut 13 tahun dengan saya. Walaupun sudah berumur, dia tetap gesit. Beberapa kali dia menyelamatkan saya dalam keadaan genting.

Dulunya, ia tinggal di Kali Malang, Jakarta Timur. Ia suka berkunjung di sebuah pabrik di bilangan Karawang. Buat saya, cukup jauh daya jelajahnya. Sekarang, dia tinggal bersama saya di Depok. Hampir setiap hari dalam seminggu, ia pergi bersama saya. Berangkat pagi, pulang dini hari. Dari pinggir kota menuju tengah kota.

Oh iya, saya belum perkenalkan pada kalian. Nama dia Nanu. Dianjuga berkuping panjang seperti kelinci. Kulitnya hitam. Jari jemarinya lentik dan berkuku putih. Di baju merahnya, terdapat lambang sayap burung. Kaki-kakinya juga kokoh. Besar siap menopang berat badannya yang tak terlalu berat. Nanu siap berlari jika dibutuhkan.

Suatu ketika saya dan Nanu berkeliling kota Jakarta. Di tengah jalan, kami membelah jalanan ibukota. Di bawah sinar lampu-lampu gedung yang berpendar. Kerlap-kerlip lampu penerangan jalan juga membuat makin ingin berkelana. Orang-orang hanya dapat terpana melihat kami. Saya dengan baju hitam dan kemeja kotak-kotak, sementara Nanu dengan baju merah. Bersemangat seperti dalam diteriakkan oleh Arian Seringai.

Mari sini berdansa denganku: Membakar Jakarta
Sekali ini berdansa denganku: Membakar Jakarta

Ada lagi pengalaman menarik bagi Nanu. Ia pernah pergi bersama seorang wanita berparas manis. Sempat ia malu-malu. “Badanmu kecil ya. Agak bagaimana gitu. Hehe,” kata wanita itu. Walaupun begitu, ia tetap percaya diri. Nanu mengajak wanita itu pergi makan nasi goreng di bilangan Kebon Kacang. “Enak ya. Kapan-kapan ajak aku makan di sini lagi ya,” ujarnya. Nanu senang.

Saat ini, Nanu sedang sakit. Ia terbaring di rumah. Badannya semakin kurus. Tenaganya sedikit berkurang. Saya sudah membawanya ke dokter. Disuntik badannya. Saya memijat badannya. Membaluri dengan cairan yang panas bagaikan remason. Oh cepat sembuh sahabatku. Wahai teman perjalananku. Agar bisa kita nanti bermain bersama lagi. Sampai bertemu lagi sahabatku. Ya, Nanu. Si motor Honda CB 100.

Depok, 5 September 2015
Di depan rumah sambil menghabiskan sebatang rokok.

Bangun Pagi

Bangun pagi bagi beberapa orang adalah satu mimpi buruk yang harus dihadapi. Ketika matahari menyinari wajah, bak zombie kita akan menghindar. Namun bangun pagi itu adalah keharusan. Kata pepatah, kalau bangun siang, rezeki sudah dipatok ayam. Masa iya kalah sama ayam?

Akhir-akhir ini saya bisa setiap hari bangun pagi. Tapi tetap masih kalah dengan si ayam. Dia lebih dulu berkokok. Curang. Bayangkan saja dia masuk kandang lebih dulu daripada saya. Sementara, saya baru pulang kandang 4-5 jam setelahnya. Namun ada satu kemajuan dibanding beberapa minggu yang lalu. Saya selalu bangun siang.

Bangun pagi berarti ada kesempatan untuk berbincang-bincang dengan keluarga. Maklum bekerja sebagai wartawan, jam kerja bisa lebih fleksibel. Ditambah jika sedang rindu rumah, sedikit bisa terobati dengan bangun pagi. Juga tak perlu takut seperti zombie. Lagipula matahari pagi kaya dengan vitamin E. Itu kata pelajaran di sekolah dasar yang tetap sama hingga kini. Namun jangan kesiangan, vitamin E-nya berubah jadi serangan ultra violet. Kanker nanti jadinya.

Bangun pagi di hari libur adalah satu nikmat yang jatuh dari langit. Kita bisa melakukan berbagai hal. Dari nonton televisi hingga pergi ke taman bersama hewan peliharaan. Jika punya pacar, boleh diajak. Nanti bisa pundung kalau tak diajak. Bisa pula mandi pagi. Kalau tak pagi kan bukan mandi pagi namanya. Beda deh. Bangun pagi masih bisa mendengarkan burung-burung bersiul. Mereka mungkin sama seperti kita. Bersiul untuk menarik perhatian pasangannya. Ah, ada-ada saja celoteh pagi ini. Mari melanjutkan aktifitas hari ini.

Depok, 5 September 2015
Dalam rencana mereparasi motor