IMG_9131Kamis (31/8/2017) sekitar pukul 20.30 WIB, saya naik kereta commuter line dari Stasiun Manggarai menuju Stasiun Depok Baru. Kondisi gerbong kereta penuh. Sebelumnya, di Stasiun Manggarai pun sudah padat merayap.

Cukup sulit untuk naik ke dalam gerbong. Tak jarang saya meliuk-liukkan badan untuk menembus barikade penumpang yang berada di pintu masuk. Yak, saya berhasil masuk dengan usaha yang tak sedikit.

Kereta meninggalkan Stasiun Manggarai. Saya hanya menghabiskan waktu dengan mengecek berita tentang Ekspedisi Pemanjatan Tebing Puruk Sandukui dari Mapala UI dan sambil mendengarkan lagu berjudul Kuning dari band Rumah Sakit. Keheningan saya pecah ketika kereta mulai memasuki Stasiun Lenteng Agung.

“Eeuuhh,” keluh seorang ibu-ibu sambil mendorong saya.

Si ibu menganggap saya mendorongnya. Padahal, saya pun juga terdorong oleh orang lain. Ibu itu punya tinggi sebahu saya.

Saya pun melepaskan earphone dan menoleh kebingungan. Si ibu mendorong dengan muka yang serius. Posisi ibu itu menghadap ke jendela dan saya berada di belakangnya menghadap ke bordes gerbong. Saya anggap mungkin ibu itu merasa tak nyaman dengan suasana kereta yang penuh penumpang. Begitupun dengan saya.

Kemudian saya kembali ditegur.

“Mas mendingan mas pindah posisi menghadap ke ibu. Itu kedorong-dorong kena tangan,” kata seorang perempuan di sebelahnya.

Saya menjawab.

“Makasih mba. Nanti bisa menimbulkan fitnah. Sering kejadian kasus pelecehan karena posisinya membelakangi. Saya tak mau itu terjadi,” balas saya dengan diplomatis dan tenang.

“Yaelah mas. tinggal madep (menghadap) aja susah banget,” balas si perempuan itu lagi.

Si ibu yang merasa terdorong hanya melihat saja.

“Maaf mba. Saya sering lihat kasus seperti itu. saya juga sering naik kereta kok. Ini memang sedang penuh. Maklum pulang kerja,” ujar saya.

“Yaelah mas biasa aja kali. Cuma dikasih tau. Yaudah diem aja mas,” balasnya.

“Saya daritadi juga diem mba. Mbanya aja yang marah-marah,” ungkap saya.

“Oh begitu ya? heh,” jawabnya dengan ketus.

“udah mba udah mba. Sekarang mau Lebaran kan? yuk takbiran aja,” ajak si Ibu itu untuk menenangkan.

Saya kemudian tak menanggapi kembali perkataan si perempuan. Saya kembali menggunakan earphone dan menghindari debat itu. Pada dasarnya, saya ingin menghormati perempuan dengan menjaga posisi berdiri saya di dalam kereta yang penuh. Sebisa mungkin saya menahan tubuh agar tak menyentuh perempuan meski terdorong dan gerbong kereta terguncang.

Kehidupan di kereta commuter line memang keras. Meski sudah menjaga diri, belum tentu dianggap benar.

Advertisements

Dalam Ingatan Tentang Kakek

Adi memacu gas motor kesayangannya tanpa belas kasih. Mesin motornya berteriak kencang. Angin malam menjadi temannya di sepanjang jalan. Jaket jeans membalut badannya, yang kata teman-teman Adi, seperti tinggal tulang.

Saat itu hari sudah gelap. Jalan Raya Margonda, Depok tampak lengang. Hanya ada beberapa pengemudi ojek daring dan mobil-mobil pikap yang menjajakan tahu bulat nan hangat di pinggir jalan.

“Aku harus cepat sampai rumah,” Adi membatin.

Sejauh ini, ia sudah berkendara sekitar 40 kilometer dari barat kota Jakarta. Motor yang ia kendarai sebenarnya sudah layak untuk masuk “museum”. Maklum, peninggalan dari sang kakek di Magelang. Jadi, betul-betul ia rawat betul.

Ia mengingat sekali apa kata kakeknya.

“Nduk, mbah kepingin motor iki diopeni. Ben, anakmu iso nganggo motor iki. (Dek, kakek mau motor ini diurus. Supaya, anak kamu bisa pakai motor ini),” kata Mbah Padmo, kakek Adi sebelum meninggal pada tahun 2010.

“Njih, Mbah (Iya, mbah),” balas Adi.

Mbah Padmo dulu sering naik motor tua itu. Bukan sembarang motor. Motor Mbah Padmo adalah motor kenangan semasa hidupnya. Honda CB 100 keluaran tahun 1970 itu motor Mbah Padmo. Kelir merah marun warnanya.

“Mbah ketemu Mbah Uti jaman biyen ning Alun-Alun Kota Magelang. Cedak water toren iku, Di. Kuwi wis ono kiro-kiro jak jaman Londo. Lah, montor e yo CB iki (Kakek ketemu nenek jaman dulu di Alun-Alun Kota Magelang. Deket water toren itu. Lah, motornya ya CB ini),” ujar Mbah Padmo saat Adi mengingat ucapan kakeknya.

Cerita kakek Adi terus lekat di ingatan.

*

Beberapa waktu sebelumnya, Adi pergi ke sebuah kafe di bilangan Cipete, Jakarta. Kafe dengan model kekinian. Ia datang bersama dua orang rekannya.

“Di, udah lama nunggu?,” kata Andaru sambil menepuk bahu Adi.

“Belum, kok, Ru,” jawab Adi.

Mereka duduk berhadapan. Seorang pelayan datang menghampirinya. Dia berseragam serba hitam dengan sebuah kain tenun melingkar di lehernya.

Sang pelayan menyodorkan selembar daftar menu.

“Pesan apa?”

“Saya ice latte dan kentang goreng,”

“Baik. Ditunggu ya, Mas,”

Adi melanjutkan obrolannya dengan Andaru. Alunan musik bossanova menemani mereka. Bangku-bangku lain juga terlihat terisi.  Kebetulan, kafe tempat mereka nongkrong adalah lokasi yang strategis dan terlaris di layanan pesan antar oleh ojek daring.

“Kakek lo apa kabar, Ru?”

“Sehat, Di. Kemarin gw abis main ke Yogya. Kakek gw kadang masih suka ke Candi Borobudur,”

“ooohh, syukur kalo gitu Di,” ujar Adi sambil menunduk.

Andaru sempat bingung. Sangat jarang Adi bertanya ihwal kakek Andaru. Paling banter, Adi suka menanyakan kabar ibu Andaru.

Mereka adalah karib lama. Sedari di sekolah dasar, Adi dan Andaru telah bermain bersama. Mereka dulu bersekolah di SDN 03 Pagi Gandaria Utara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Mereka bercengkerama hingga larut malam. Segelas ice latte dan kentang goreng menjadi cemilan pengantar.

Lalu, Adi pamit untuk pulang. Andaru pun pulang. Mereka berpisah di perempatan Jalan Raya Pondok Labu. Andaru menuju Ciputat dan Adi ke arah Depok.

*

Derit alarm jam memekakkan telinga Adi. Ia segera meloncat dari tempat tidurnya. Kamar mandi adalah tujuannya.

“Gawat nih. Bisa telat nih gw. Mana dosennya galak lagi,”

Hari itu Adi harus mengikuti kuliah Sejarah Kolonial. Mata kuliah tersebut harus masuk tepat waktu. Adi harus tiba di Universitas Indonesia pukul 08.00 WIB. Sementara, jam telah menunjukkan pukul 07.30 WIB ketika ia bangun dari lelap.

Perjalanan dari rumahnya menuju kampus memakan waktu lebih kurang 15 menit. Ia langsung mandi koboi.  Rambutnya yang rada gondrong itu, ia sisir dengan cekatan.

Brum..brumm..

Adi membetot gasnya menuju kampus.

Ternyata ia terlambat 20 menit. Kelasnya sudah dimulai. Dosennya memberikan hukuman untuk Adi yakni menceritakan tentang subyek kuliahnya.

“Kakek saya dulu membantu Jenderal Soedirman di Magelang. Dulu ia kasih makanan ke tentara-tentara gerilya. Pak Dirman juga pernah menginap di rumah kakek buyut saya,” ucap Adi bersemangat di depan teman-temannya.

*

“Di, cerita lo tadi seru deh,” kata Syifa, rekan perempuannya di kantin.

“Iya, Fa. Kebetulan kakek gw pejuang,”

“Lo masih sempet ketemu kakek?, ”

” Masih, Fa. Bulan puasa 7 tahun yang lalu. Kakek gw sekarang dimakamin di Magelang,”

“Oh,”

Mereka berbincang hingga jelang magrib. Kantin siang itu tak terlalu penuh. Seperti biasa banyak yang duduk,  tertawa, dan juga bermain kartu di beberapa meja.

“Gw harus pergi, Fa. Ada urusan sebentar,”

“Oke, Di. Hati-hati. Kabarin lagi ya,” kata Syifa sambil menepuk pundak Adi.

*

Di samping Adi, duduk seorang laki-laki berambut putih total. Badannya kering kerontang. Orang-orang berlalu lalang tanpa henti. Sang kakek hanya duduk sambil memegangi perutnya. Matanya nanar. Mulutnya terdiam membisu.

Adi saat itu tengah berada di Kawasan Kota Tua. Kebetulan, ia mendapat pekerjaan tambahan untuk menulis tentang wisata Kota Tua.

“Kakek, sudah makan?,”

“Belum, De. Masih menunggu cucu lagi pergi main. Katanya nanti mau bawa makan,”

Sebenarnya, Adi mesti melanjutkan tugasnya. Namun, ia pergi ke sebuah warung kecil untuk membelikan kakek itu roti dan teh manis hangat.

Suasana di Kota Tua tetiba riuh. Semua orang berkumpul di tengah pelataran area yang dulu pernah dikuasai oleh Belanda. Tetiba aparat berseragam coklat juga merapat ke tempat ia persis duduk tadi.

“Ada apa, Pak?” tanya Adi sambil memegang kantong plastik berisi roti dan teh manis hangat.

“Itu ada kakek-kakek meninggal, Dek,”

Bak petir di siang bolong, Adi tersentak. Ternyata kakek yang meninggal itu adalah yang tadi berbincang dengannya. Adi terguncang. Ia tak menyangka dalam hitungan kurang dari setengah jam, ia telah berpisah dengan kakek itu.

Air matanya mengalir. Lidahnya kelu. Tangannya gemetar. Kebingungan melanda dirinya. Sementara, semua orang masih berkerumun. Polisi masih mengamankan sekitar tempat kejadian perkara sambil menunggu pihak rumah sakit untuk datang. Cucunya pun juga belum datang.

Sungguh. Adi tak kuasa melihat peristiwa itu. Lalu, ia melangkah menuju tempat motornya diparkir.

Adi teringat bahwa esok hari harus pergi ke Magelang. Ia bersama orang tuanya akan menziarahi makam kakeknya. Keretanya akan berangkat pada pukul 07.00 WIB dari Stasiun Pasar Senen. Sawunggalih Pagi nama keretanya. Momen itu tepat pada hari Lebaran.

Adi masih teringat betul bagaimana percakapan dengan seorang kakek tua itu. Sosok kakek itu terus membayang di kepala Adi selama perjalanan menuju Depok.

Ia langsung tancap gas dengan motor tuanya itu.

“Kakek, aku besok datang ke kampung halaman. Makammu pasti sudah kotor, Kek,”

Hujan Bulan November

Semua kini bersorak. Tangan ditengadahkan ke langit. Syukur terucap dari kaum-kaum yang nestapa yang bak kamar mandinya tak terisi. Tanah gembur kembali sediakala. Air sungai mulai meninggi. Anak-anak bisa menemukan hiburan nan murah. Ya, sekarang sudah mulai hujan. Aku mulai merasakan air turun dari langit dan beringas menghajar wajah.

Awal November, cerita itu dimulai. Kabar mulai tersiar ke penjuru nusantara. Bahwasanya hujan telah mengurangi jumlah titik api di hutan-hutan gambut dilahap api yang tak bertanggung jawab. Asap mulai menipis. Warga bisa menghirup udara segar. Aku adalah orang yang hanya dapat tersenyum kembali mendengar berita baik ini. Aku rasa kamu pun juga demikian. Mari kita bergembira. Pak tani di desa-desa yang jarang kita temui pasti tersenyum pada pagi hari ketika mulai mengunjungi sawah.

Sapardi pernah menuliskan sebuah puisi berjudul “Hujan Bulan Juni”. Ia menggambarkan tentang ketabahan, kearifan, dan bijaknya hujan bulan Juni. Bahwa jejaknya terhapus di jalan, rindunya dirahasiakan kepada bunga, dan terserap oleh akar pohon. Saat ini demikian, hujan bulan November. Ia pun mulai meninggalkan jejak-jejak nanti akan hilang yang terserap. Di tanah, hujan akan kembali menyuburkan. Ia pun akan mengisi ruang-ruang tanah dan bersiap kembali dihisap oleh mesin-mesin milik manusia.

Hari Minggu (1/11/2015) lalu, Depok diguyur hujan. Mulanya, rintik-rintik tapi kemudian langit langsung menumpahkan seluruh isinya. Semua yang berkendara dengan motor mengurangi laju dan lalu menepi ke pinggir jalan. Mereka turun dan lalu berteduh. Beda dengan pengendara mobil. Sementara aku terus membelah aspal kembali menuju singgasana. Dengan Nanu yang setia menemani setiap hari. Kali ini, Nanu pertama kali bermandi ria di tengah hujan. Dia tampak senang. Ia tak pundung di tengah hujan.

Saat melintas di Universitas Indonesia pada hari Senin (2/11/2015), hujan turun deras. Aku sebentar berteduh di Fakultas Hukum. Beberapa mahasiswa keluar dengan payung menembus hujan. Aku tak mau kehujanan. Berteduh adalah pilihan yang tepat. Sebatang rokok aku nyalakan untuk menemani dinginnya malam. Dua tiga pesan muncul di layar handphone saya. Tertulis bahwa pesan di Kalibata, Sudirman, Semanggi juga turun hujan. Aku pun ikut mengabarkan jika di Universitas Indonesia juga turun hujan.

Tak sabar aku menunggu hujan. Namun seseorang tetap mengingatkanku untuk tetap berteduh agar tak kehujanan. Ia tampak khawatir dengan kondisiku. Ah tenang saja, aku baik-baik saja. Buktinya, aku masih bisa menulis. Rasa-rasanya, kesabaranku mulai habis. Aku putuskan untuk merobek tirai-tirai hujan. Air dari langit siap menampar dan menghantamku. Niat tetap bulat. Aku pergi menyusuri jalan melewati Fakultas Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Fakultas Ekonomi hingga Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (Pusgiwa) Universitas Indonesia. Jam menunjukkan pukul 22.00.

Lama aku tak mandi hujan. Di sepanjang jalan, air nan deras kerap menutup wajahku. Mataku tak bisa melihat. Kupacu Nanu untuk segera melaju. Ia berteriak kencang. Roda-roda motorku berputar cepat. Knalpotku menggelegar. Dapur pacu Nanu bersahutan. Kubelokkan stang motor menuju Pusgiwa. Aku tiba di Sekretariat Mapala UI. Aku basah kuyup. Aku senang bisa selamat sampai tujuan. Sesuai dengan doa dari seseorang yang kusayang. Terima kasih ya. Hujan ini pertanda rindumu datang. Hujan Bulan November ini adalah kisah pertama kita berdua. Semoga tetap teduh dan wangi petrichor tetap bisa kita cium berdua.

Depok, 2 November 2015. Ketika hujan makin sering turun dan masih menunggu reda.

 

 

Satu Bulan

Kita pernah berikrar untuk saling berjauhan. Ingatkah kamu waktu itu? Baru satu hari berlalu, kamu menghubungiku lagi. Ya, kita kembali bertemu di sebuah mall di kota yang terkenal dengan buah belimbing. Lalu, kita bersama memasuki gedung kaca yang sarat akan hiburan. Sebuah film kisah nyata berjudul “Everest” menjadi santapan.

Kita kembali berbincang, tertawa, dan berjalan bersama juga bergandengan tangan. Semua peristiwa itu masih lekat di benak. Pada akhir bulan Juli lalu pun aku masih ingat. Kala Menteri Pariwisata Arief Yahya sedang diserbu oleh para kuli tinta. Betul, termasuk aku juga. Di sana, senyum simpulmu berhasil mengikat pandanganku.

Setiap pagi, kita selalu menyapa. Entah kamu atau aku terlebih dulu. Kamu sudah berangkat, kadang aku masih terlelap. Begitu sebaliknya. Kita masih bergantung pada deret huruf dan angka yang bersatu membentuk kata dan agenda. Kamu belum sarapan. Susah ya buat sarapan. Oh iya, kamu kan susah makan nasi. Kamu sampai di Depok, aku pergi menuju ke Jakarta. Kita masih berbeda.

Waktu terasa cepat berlalu. Aku tenggelam dalam kesibukan. Kamu terhempas kepadatan. Hanya barisan kata yang mampu tertulis di layar kaca telepon genggam yang terlihat. Namun, suara kita juga merasuki telinga. Terkadang foto juga menjadi pelipur lara. Waktu berjumpa hanya sekelebatan mata. Apalagi kemarin, hampir dua minggu lamanya aku tak berada di kota-kota yang menjadi tempat pertemuan kita.

Dalam hati, hanyalah doa yang terucap. Semoga kita baik-baik saja. Kita dapat selalu tertawa dan terus berjuang. Demi masa depan yang sudah menunggu. Setiap fajar, siang, sore, dan malam kita terus terjaga. Dalam perjalanan hidup, kita meminta. Pada-Nya, kita memohon. Dia tak tidur. Selalu mendengar dan melihat. Walaupun hamba-Nya terlelap. Seperti sekarang yang kamu lakukan. Tidur.

Kemarin, tepatnya pukul 13.30 WIB, kita kembali bertemu. Setelah lama aku pergi. Menariknya, kita melakukan di tempat yang sama. Dengan aktifitas yang sama tapi dengan film yang berbeda. Kali ini film The Last Witch Hunter yang baru dirilis kemarin lusa, 23 Oktober 2015. Film yang dibintangi Vin Diesel dan bercerita tentang pemburu penyihir berlatar tempat di New York. Kita terpana dan bertanya-tanya “siapakah Kaulder ini?” di sudut kursi bioskop dengan urutan L. Ah filmnya seru ya. Sebelumnya, kita juga nonton video perjalanan Chulu West-nya anak Mapala UI di Pusgiwa. Lumayan nontonnya.

Setelah film berakhir, kita pergi ke lorong jalan Kober membeli kabel data iPhone. Kalau tidak beli, tak mungkin tulisan ini selesai dan diunggah di blogku yang usang. Lagipula, hari ini aku juga mesti bekerja. Hanya telepon tenggam berlogo buah apel ini andalanku. Maklum, laptopku sedang rusak. Kita kembali bergegas. Bekasi adalah tujuan akhirnya.

Kamu sempat tertidur ketika Nanu meninggalkan Tanjung Barat dan memasuki Pasar Minggu. Aku dan Nanu memelankan laju supaya kamu bisa terlelap. Maafkan aku dan Nanu. Lain waktu kita pergi dengan lebih nyaman ya. Kita sempat berhenti di sebuah masjid di daerah Pasar Minggu Baru. Sebentar kita menghadap-Nya. Namun perut mulai lapar. Kita kembali melaju menuju Duren Sawit, jalan potong menuju Pulo Gadung. Kamu bilang aku hapal jalan. Jalan itu adalah rute menuju rumah saudaraku. Jadi aku bisa hapal.

Kota Harapan Indah sudah mulai dekat. Tetiba kamu mabuk. “Aku mual. Mungkin karena naik motor,” keluh kamu. Kok bisa ya? Sungguh bertolak belakang. Aku malah mabuk jika naik mobil. Sedikit lagi sampai kok. Nanu bergerak lincah. Kamu keheranan. Kan perut sudah mulai lapar. Rencananya, kita akan menikmati makanan di sebuah kedai berkonsep warung kopi. Namun, karena ramai kita pindah ke tenda kecil warung yang menghidangkan makanan laut. Kita langsung melahap nasi goreng, indomie rebus, roti bakar, dan teh manis. Kenyang.

Terima kasih ya. Sebulan sudah kita bersama. Saling mengisi hari-hari. Tersenyum bersama. Walau kadang kekurangan masih tampak sana-sini. Kita instropeksi dan mencari solusi. Tujuannya supaya lebih baik. Sekarang hari ke-31. Kamu mengirimkan pesan panjang. Di salah satu bagian akan menungguku sampai di rumah. Namun, nyatanya kamu sudah tidur. Pasti kamu lelah. Biarlah kamu menjadi penjelajah mimpi seperti di film tadi. Tapi, cukup kenangan yang baik saja ya. Kita akan selalu berjalan bersama. Mudah-mudahan ya. Semoga Dia mengizinkan. Selamat pagi.

Depok, 25 Oktober 2015. Sebulan perjalanan bersamamu.

Mie Ayam dan Majalah

Mie ayam dan majalah adalah dua hal yang menjadi kombinasi yang sempurna malam ini. Bagaimana mungkin bisa? Majalah adalah bacaan, sementara mie ayam adalah makanan. Yang pertama untuk rohani dan yang kedua adalah untuk jasmani. Yang pertama untuk menambah pengetahuan, yang kedua untuk membuat kenyang.

Untuk pilihan rasa mie ayam, rata-rata semua penjual menawarkan dua pilihan yaitu kering dan basah. Pilihan basah menggunakan kuah dan pilihan kering atau biasa dikenal dengan nama yamin, tanpa kuah dan menggunakan kecap tambahan. Sementara majalah, dalam segi penyajian juga terdapat dua pilihan yaitu tercetak dan digital. Pilihan tercetak dapat dipegang secara utuh dan dibaca langsung, dan pilihan digital, tak dapat disentuh dan memerlukan alat bantu berupa gawai.

Namun, hari ini dua hal tersebut sangat berbeda walaupun sudah sangat familiar di sekitar saya. Yang membuat berbeda adalah objek yang melakukannya. Adalah dia yang mengalaminya. Juga saya tentunya. Ya, kami berdua. Kami duduk bersama di sebuah pelataran suatu tempat di mana Dian Sastrowardoyo berkuliah dulu. Juga tempat Fadli Zon menimba ilmu hingga sekarang ia bisa menjadi politisi papan atas Indonesia. Perbincangan tentang mie ayam dan majalah terasa begitu bermakna.

Sejak minggu lalu, rencana ini sudah kami buat. Semua berawal dari tugas mencari majalah. Dia mendapatkan tugas untuk mencari majalah internal maupun eksternal terbitan pemerintah atau perusahaan. Kebetulan saya memiliki beberapa majalah tersebut. Disusunlah rencana untuk berjumpa. Rencana itu berlanjut menjadi janji. Janji bertemu selepas studi yang dia lakukan.

Dari awal pertemuan, saya menjadi tahu kalau dia takut dengan anjing. Bahkan anjing yang sudah jinak. Dia sempat menghindar. Raut wajahnya memancarkan rasa takut. “Tenang. Gak gigit kok. Sudah jinak ini si Pus-Pus,” kata saya. “Enggak ah. Kan haram,” jawabnya. Ia bersembunyi di balik pagar. Sebelumnya di kamar mandi. Lucu ya. Saya juga takut sih. Tapi tak separah itu. Kalau anjing-anjing lain baru saya takut. Apalagi kalau sampai mengejar. Kadang saya membawa batu untuk dilemparkan ke anjing yang mengejar saya.

Pelataran tempat saya duduk saat ini telah banyak berubah. Dulu, waktu saya masih berkuliah, banyak mahasiswa yang duduk bercengkerama di sini. Mulai dari membahas kuliah, unit kegiatam mahasiswa, aksi-aksi berbentuk demo, acara-acara fakultas, atau cuma jadi tempat ajang pendekatan mahasiswa incaran. Namun tak jarang juga tempat ini digunakan menjadi tempat doktrinisasi aneka ideologi. Kalau dulu, saya hanya makan dan bersantai saja sambil makan gorengan, minum kopi, dan menghisap sebatang rokok.

Saya kali ini banyak bercerita tentang keluarga. Perbincangan bergulir tentang adik saya yang kini juga belum mengecap dunia perkuliahan. Dia cukup keheranan. “Dia senengnya apa emang?,” kata dia. “Ya, udah milih sih tapi gak lulus juga,” jawab saya. Lalu, berganti dengan majalah. Ia menceritakan tentang tugasnya. Menurut saya, tugasnya menarik. Ia mengambil salah satu topik yang belum pernah diambil. Satu pilihan yang jitu. Dunia menulis memang menarik untuk digeluti. Bagi saya, ucapan dari Pramoedya Ananta Toer kerap membayangi benak tiap hari.

Malam semakin larut. Mie ayam dan majalah sudah habis dilahap. Secarik uang kertas keluar dari celana jeans berwarna biru. “Matur nuwun nggeh, Bu,” ucap saya dengan bahasa Jawa yang kental. Kami berlalu. Jalan akan berganti rel. Dari motor menjadi kereta. Dari selatan menuju timur. Dari kesunyian menjadi keramaian. Dari udara malam menjadi pendingin ruangan. Namun asa masih tetap sama. Satu pengemudi yang menjalankan. Sekarang sudah pagi. Waktunya pulang. Besok masih harus ke Palmerah. Ia pun masih harus ke Depok.

Universitas Indonesia, 7 September 2015
Perjumpaan yang dinantikan

Merayu


Kata dituliskan

Kalimat dituturkan

Bermakna untuk dilemparkan ke lawan

Ia tersenyum berpeluh

Penuh arti yang bercabang

Berbaring memandang

Gelagat terasa ditendang

Kemudian berujung senang

***

Semua tampak tertata

Saling melempar kata

Mendapat lara di tubuh

Menjadi bait-bait utuh

Ia terbayang

Melewati ambang

Menuju cakrawala malam

Kemudian jatuh terbenam

***

Jakarta, 4 September

Di depan komputer diiringi sajak Wiji Thukul

Wakil Rakyat Bolos, DO atau Jadiin Pegawai Perpustakaan Daerah

Wakil rakyat adalah orang-orang yang telah dipilih oleh rakyat untuk mewakili aspirasinya. Namun beberapa oknum lalai dalam melaksanakan tugasnya. Hal ini cukup menggelitik. Apalagi jika dikaitkan dengan program studi yang saya ambil pada masa kuliah lalu yaitu Ilmu Perpustakaan.

Rapat Paripurna DPR

Ilustrasi Rapat Paripurna DPR

Beberapa hari yang lalu, linimasa akun Twitter saya muncul sebuah kicauan yang tidak mengenakkan. Kicauan tersebut merupakan sebuah kicauan dari tweeps -sapaan bagi para pengguna Twitter- . Bunyinya seperti ini “besok 3x ga ga dateng rapat, DO aja itu wakil rakyat atau jadiin pegawai perpus daerah”. Cukup terkejut saya dibuatnya. Bagi saya yang seorang sarjana Ilmu Perpustakaan, kicauan itu sangat mengganggu saya. Bukan yang pertama kali saya dibuat gusar terkait dengan pernyataan tersebut. Sebelumnya jika masih ingat polemik Anas Effendi ketika masih menjabat Walikota Jakarta Selatan dimutasi menjadi Kepala Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah pada tahun lalu, kasus itu cukup membuat gerah kalangan pustakawan, termasuk saya yang kala itu masih menjadi mahasiswa. (baca beritanya di sini).

Sebelum saya membalas kicauan tersebut, saya menelusuri mengapa tweeps tersebut dapat berkicau demikian. Ternyata dia membalas kicauan yang berbunyi “Inisiatif baru yg keren @WIKIDPR digagas gue rasa karena geram dgn pemandangan seperti ini – Kompas hari ini.” dengan sebuah foto pemandangan ruangan gedung DPR terlihat sepi ketika rapat RUU Panas Bumi (baca beritanya di sini) . Dengan latar belakang tersebut, saya menyimpulkan bahwa wakil rakyat yang disebutkan bermasalah karena tidak hadir rapat. Saya menafsirkan kicauan balasan dari pernyataan tersebut adalah wakil rakyat yang tidak hadir rapat 3x, silahkan di-DO atau mutasi menjadi pegawai perpustakaan daerah. Ini adalah substansi yang saya permasalahkan sebagai seorang yang mempunyai latar belakang ilmu perpustakaan. Apakah pantas wakil rakyat yang bermasalah dimutasi menjadi seorang pegawai perpustakaan daerah? Apa dasarnya pernyataan tersebut?

Kemudian terjadi percakapan antara saya dengan tweeps tersebut. S: Saya , T: Tweeps tersebut

S. “haha pendapatmu ngaco . masa wakil rakyat bermasalah dijadiin pegawai perpus daerah? IQ?” .

Lalu dibalasnya kembali.

T . “coba aja, mereka mau atau engga tukeran jd pegawai perpus, mostly pasti gamau

      “sy ga blg yg ga dtg rapat pengesahan ruu itu bermasalah, sy blg mereka cemen gamau komit sm kerjaan

S. “kenapa? gara2 disebut “lahan kering”? inilah contoh orang yg gak menghargai pekerjaan pustakawan. kamu pernah ke perpus gak?”

T. “loh saya ga maksud ngejelekin pustakawan, sorry kalo tersinggung, tp itu ranah yg beda bgt

     “ya bisa jd sih mereka gamau krn mungkin emg ladang kering, motivasi mah urusan mereka

     “tp saat nyaleg, pasti mereka gamau jd pustakawan yg komit kerja tiap hari kerja dan ga bisa bolos seenak mereka saat rapat ruu

S. “pegawai perpustakaan = pustakawan? Jelas tersinggung. Kamu telah meremehkan profesi pustakawan. Ranah beda? Bs jelaskan?”

Dari percakapan tersebut saya mempertanyakan pernyataannya dan langsung men-judge dia telah meremehkan profesi pustakawan. Yang saya tangkap adalah penjelasan dia tidak sama sekali memuaskan pertanyaan saya. Dia berpendapat bahwa wakil rakyat yang tidak hadir rapat pengesahan RUU itu bermasalah, dia hanya berpendapat bahwa mereka cemen karena tidak berkomitmen terhadap pekerjaan. Saya bertanya-tanya, apakah wakil rakyat yang tidak hadir rapat itu tidak bermasalah? Apakah tidak berkomitmen itu tidak dapat dikatakan tidak bermasalah?. Kemudian, apakah pantas wakil rakyat yang bermasalah dimutasikan menjadi pegawai perpustakaan daerah? Inilah hal yang saya bingungkan.

Sebelumnya marilah kita bahas tentang wakil rakyat di DPR. Menurut UU Nomor 27 tahun 2009, DPR merupakan lembaga perwakilan rakyat yang berkedudukan sebagai lembaga negara. DPR terdiri atas anggota partai politik peserta pemilihan umum yang dipilih melalui pemilihan umum. Sebagai anggota DPR yang notabenenya adalah wakil rakyat, mereka memiliki hak dan kewajiban yang tertuang dalam undang-undang tersebut. Dalam undang-undang tersebut juga dijelaskan dalam pasal 126 tentang Badan Kehormatan yang bertugas melakukan penyelidikan dan verifikasi atas pengaduan anggota yang salah satunya karena tidak menghadiri rapat paripurna dan/atau rapat alat kelengkapan DPR yang menjadi tugas dan kewajibannya sebanyak 6 (enam) kali berturut-turut tanpa alasan yang sah. Menurut BAB IV Ketentuan Dalam Rapat di Pasal 6 point kedua ketidakhadiran anggota secara fisik sebanyak 3 (tiga) kali berturut-turut dalam rapat sejenis, tanpa ijin dari Pimpinan Fraksi, merupakan pelanggaran kode etik. Jadi berdasarkan penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa wakil rakyat yang tidak hadir dalam rapat merupakan pelanggaran kode etik. Dan pelanggaran kode etik adalah sebuah masalah. Berarti wakil rakyat yang tidak hadir dalam rapat adalah sebuah permasalahan.

Pustakawan Berprestasi

Para pustakawan berprestasi tingkat nasional tahun 2013 versi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Sumber

Kemudian marilah kita bahas tentang pegawai perpustakaan daerah. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pegawai adalah orang yg bekerja pd pemerintah (perusahaan, dsb). Istilah pegawai bersifat luas tidak terbatas ke dalam pemerintah, perusahaan atau badan usaha lainnya. Menurut Sulistyo Basuki, perpustakaan daerah termasuk ke dalam perpustakaan umum (1993:47). Perpustakaan umum adalah perpustakaan yang diselenggarakan oleh dana umum dengan tujuan melayani umum (1993:46). Jika Anda berkunjung ke perpustakaan di daerah Anda tinggal, itulah salah satu jenis perpustakaan yang disebut perpustakaan umum. Untuk melaksanakan tugas dan fungsi perpustakaan, dibutuhkan pegawai yang berkualifikasi sesuai dengan pekerjaan yang ada. Pekerjaan yang ada di perpustakaan ada yang bersifat penyelenggaraan administrasi perpustakaan dan pekerjaan yang bersifat kepustakawanan. Pekerjaan yang bersifat administrasi berkaitan dengan keuangan, kepegawaian, dan perlengkapan. Sementara yang bersifat kepustakawanan adalah terkait dengan pengolahan bahan pustaka, pelayanan/sirkulasi, dan pengadaan bahan perpustakaan. Jadi dapat disimpulkan bahwa pegawai perpustakaan dibagi menjadi dua jenis yaitu pustakawan dan non-pustakawan.

Pernyataan yang berbunyi “besok 3x ga ga dateng rapat, DO aja itu wakil rakyat atau jadiin pegawai perpus daerah” bagi saya adalah sebuah bentuk sarkasme terhadap profesi pustakawan. Profesi pustakawan sudah dikenal masyarakat, terutama bagi mereka yang menggunakan fasilitas dan jasa perpustakaan. Diakuinya sebuah profesi tertentu diperlukan beberapa syarat.

Robert W. Richey dalam Arikunto (1990:235) mengungkapkan beberapa ciri-ciri dan juga syarat-syarat profesi sebagai berikut:

  1. Lebih mementingkan pelayanan kemanusiaan yang ideal dibandingkan dengan kepentingan pribadi.
  2. Seorang pekerja professional, secara aktif memerlukan waktu yang panjang untuk mempelajari konsep-konsep serta prinsip-prinsip pengetahuan khusus yang mendukung keahliannya.
  3. Memiliki kualifikasi tertentu untuk memasuki profesi tersebut serta mampu mengikuti perkembangan dalam pertumbuhan jabatan.
  4. Memiliki kode etik yang mengatur keanggotaan, tingkah laku, sikap dan cara kerja.
  5. Membutuhkan suatu kegiatan intelektual yang tinggi.
  6. Adanya organisasi yang dapat meningkatkan standar pelayanan, disiplin dalam profesi serta kesejahteraan anggotanya.
  7. Memberikan kesempatan untuk kemajan, spesialisasi, dan kemandirian.
  8. Memandang profesi suatu karier hidup (alive career) dan menjadi seorang anggota yang permanen.

Jadi jelas bahwa pegawai perpustakaan mencakup pekerjaan yang bersifat kepustakawanan. Sungguh ironi jika sebuah profesi yang juga mempunyai kode etik disamakan dengan wakil rakyat yang bermasalah. Untuk mencetak pustakawan yang berkompeten, sejumlah universitas terkemuka di Indonesia menyediakan program studi terkait perpustakaan. Sebut saja Universitas Indonesia, Universitas Padjajaran, Universitas Diponegoro, Universitas Andalas, Universitas Islam Negeri, Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, dll menyediakan program studi ilmu perpustakaan yang bernaung di bermacam-macam fakultas. Dan bukan main-main untuk dapat masuk ke jurusan tersebut. Calon mahasiswa yang notabenenya siswa yang baru lulus, telah lulus satu atau dua tahun lulus harus bersaing dengan puluhan ribu peserta ujian masuk perguruan tinggi lainnya. Sementara ketika telah menjadi pustakawan, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia juga menyelenggarakan pemilihan pustakawan terbaik tingkat nasional. Pastinya untuk memilih predikat terbaik, diperlukan standar yang ketat dan komprehensif.

Tulisan ini adalah refleksi dari sebuah paradigma negatif terhadap kepustakawanan. Semoga ke depannya, profesi pustakawan dapat lebih dihargai sama dengan profesi lainnya. Karena tidak ada yang dapat menggantikan fungsi perpustakaan walaupun teknologi informasi telah berkembang pesat saat ini. Sejatinya, Ranganathan berpendapat Library is growing organism. Perpustakaan akan terus berkembang dan di balik perkembangan tersebut ada peran sang pustakawan. Dan apakah paradigma bahwa perpustakaan adalah tempat buangan bagi para pegawai negeri yang bermasalah akan terus ada? Semoga tulisan ini dapat membuka pikiran khalayak luas.

 

Sumber

http://megapolitan.kompas.com/read/2013/02/21/15202184/Mutasi.Anas.Tak.Sesuai.UU.Jokowi.Nyatakan.Punya.Alasan

http://news.metrotvnews.com/read/2014/08/26/282838/hampir-separuh-anggota-dpr-tak-hadiri-rapat-paripurna

Sulistyo-Basuki. 1991. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: Gramedia.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 2009 tentang Majelis Permusyawaratan Daerah, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. 2009. Jakarta: Sekretariat Negara Republik Indonesia.

http://bahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/index.php