Merayu


Kata dituliskan

Kalimat dituturkan

Bermakna untuk dilemparkan ke lawan

Ia tersenyum berpeluh

Penuh arti yang bercabang

Berbaring memandang

Gelagat terasa ditendang

Kemudian berujung senang

***

Semua tampak tertata

Saling melempar kata

Mendapat lara di tubuh

Menjadi bait-bait utuh

Ia terbayang

Melewati ambang

Menuju cakrawala malam

Kemudian jatuh terbenam

***

Jakarta, 4 September

Di depan komputer diiringi sajak Wiji Thukul

Terlahir Kembali

harapan, aksara, cahaya, gelap, hitam, lahir

Berawal dari gelap, nantinya akan tiba sang cahaya menyambut kelahiran kembali sang aksara

Malam ini, 19 Juli 2014 menjadi hari yang menentukan bagi saya. Mengapa menentukan? Karena saya memutuskan untuk membuat satu wadah (lagi) untuk menyalurkan minat menulis. Mengapa demikian? Sebenarnya saya memiliki blog lain yang telah saya kelola sejak 2012 lalu. Namun, saya merasa sangat dibatasi di sana. Blog saya tersebut hanya fokus sekitar pengalaman jalan-jalan -traveling- yang saya alami. Saya menyadari begitu banyak pengalaman yang dapat digoreskan dan diceritakan ke khalayak luas.

Terlahir kembali menjadi pilihan pertama judul postingan di blog ini. Saya memaknai bahwa terlahir kembali adalah hal yang sangat menyenangkan. Sebenarnya adalah hal yang tidak mungkin tentang konsep terlahir kembali dapat dilakukan. Ah, hanya mimpi jika menyadari kita terlahir kembali secara fisik. Namun di sini, terlahir kembali adalah konsep pemikiran yang lama terkekang bak dipenjara dan akhirnya kembali menemukan dunianya seperti sediakala. Terlalu liar memang. Ya, memang pemikiran di kepala yang liar ini sejatinya harus mendapatkan wahananya sendiri.

Salah satu sosok yang menginspirasi saya untuk tetap menulis hingga saat ini adalah Pramoedya Ananta Toer. Selain itu, Soe Hok-Gie dan Norman Edwin tetap ada dalam daftar penulis yang mampu mendokumentasikan catatan hariannya secara detil. Satu kutipan bijak dari Pramoedya Ananta Toer yang kerap membayangi benak saya adalah “Orang boleh pandai, setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian”. Saya menyadari bahwa saya bukan orang yang pandai. Namun dengan menulis saya telah berusaha untuk mencapai keabadian. Biarlah saya tak lekang dimakan waktu.

Maafkan saya jika terlalu meledak-ledak. Biarlah ledakan ini menjadi awal dari kebangkitan tradisi literasi yang harus terus dilestarikan. Semangat ini semoga terus dapat dijaga. Proses menjadi adalah satu hal yang mengasyikkan. Apalagi jika didokumentasikan. Deretan aksara dan rekaman gambar akan siap membawa kita ke dimensi lain. Selamat beraksara!

Depok, di sebuah ruang kecil yang dingin. 19 Juli 2014