Si Nanu

Beberapa minggu lalu, saya berkenalan dengan sahabat baru. Ia berbadan kecil, suka berbaju merah, gesit, dan bertenaga. Kegesitannya membuat saya terkesan. Secara umur, dia terpaut 13 tahun dengan saya. Walaupun sudah berumur, dia tetap gesit. Beberapa kali dia menyelamatkan saya dalam keadaan genting.

Dulunya, ia tinggal di Kali Malang, Jakarta Timur. Ia suka berkunjung di sebuah pabrik di bilangan Karawang. Buat saya, cukup jauh daya jelajahnya. Sekarang, dia tinggal bersama saya di Depok. Hampir setiap hari dalam seminggu, ia pergi bersama saya. Berangkat pagi, pulang dini hari. Dari pinggir kota menuju tengah kota.

Oh iya, saya belum perkenalkan pada kalian. Nama dia Nanu. Dianjuga berkuping panjang seperti kelinci. Kulitnya hitam. Jari jemarinya lentik dan berkuku putih. Di baju merahnya, terdapat lambang sayap burung. Kaki-kakinya juga kokoh. Besar siap menopang berat badannya yang tak terlalu berat. Nanu siap berlari jika dibutuhkan.

Suatu ketika saya dan Nanu berkeliling kota Jakarta. Di tengah jalan, kami membelah jalanan ibukota. Di bawah sinar lampu-lampu gedung yang berpendar. Kerlap-kerlip lampu penerangan jalan juga membuat makin ingin berkelana. Orang-orang hanya dapat terpana melihat kami. Saya dengan baju hitam dan kemeja kotak-kotak, sementara Nanu dengan baju merah. Bersemangat seperti dalam diteriakkan oleh Arian Seringai.

Mari sini berdansa denganku: Membakar Jakarta
Sekali ini berdansa denganku: Membakar Jakarta

Ada lagi pengalaman menarik bagi Nanu. Ia pernah pergi bersama seorang wanita berparas manis. Sempat ia malu-malu. “Badanmu kecil ya. Agak bagaimana gitu. Hehe,” kata wanita itu. Walaupun begitu, ia tetap percaya diri. Nanu mengajak wanita itu pergi makan nasi goreng di bilangan Kebon Kacang. “Enak ya. Kapan-kapan ajak aku makan di sini lagi ya,” ujarnya. Nanu senang.

Saat ini, Nanu sedang sakit. Ia terbaring di rumah. Badannya semakin kurus. Tenaganya sedikit berkurang. Saya sudah membawanya ke dokter. Disuntik badannya. Saya memijat badannya. Membaluri dengan cairan yang panas bagaikan remason. Oh cepat sembuh sahabatku. Wahai teman perjalananku. Agar bisa kita nanti bermain bersama lagi. Sampai bertemu lagi sahabatku. Ya, Nanu. Si motor Honda CB 100.

Depok, 5 September 2015
Di depan rumah sambil menghabiskan sebatang rokok.

Advertisements

One thought on “Si Nanu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s