Memaknai Kemerdekaan Dalam Doa

17 Agustus 1945, Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, Sejarah

Bendera Indonesia berkibar pada tanggal 17 Agustus 1945. Foto: Frans Mendur, Wikipedia.

Tepat 69 tahun yang lalu, Indonesia berhasil melepaskan belenggu penderitaan dari tangan penjajah. Terlepas dari pro kontra bahwa Indonesia dijajah 350 tahun, para pejuang kemerdekaan telah mengorbankan jiwa dan raga demi kemerdekaan. Bambu runcing, senjata rampasan, dan semangat membara menjadi modal berjuang demi Indonesia.

Menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, setiap sudut rumah maupun jalan mendadak ramai dengan warna merah putih. Bendera kebanggaan berkibar dengan gagahnya di halaman rumah. Di ujung jalan-jalan perkampungan disulap menjadi hiasan oleh tangan-tangan kreatif. Acara-acara berbau perayaan dibuat dengan meriah mulai dari lomba-lomba, pengibaran bendera di puncak tertinggi maupun di dasar laut.

Kemeriahan khas Hari Kemerdekaan Republik Indonesia bak hal yang wajib dilakukan setiap tahunnya. Demikian pun dengan saya. Gelak tawa tenggelam dalam euphoria nasionalisme dipupuk sejak kecil. Nasionalisme ditumbuhkan lewat perlombaan balap karung, memasukkan jarum ke botol, hingga lomba makan kerupuk. Namun tahun ini saya mengalami pengalaman yang berbeda dengan kebiasaan yang ada.

Saya tinggal di daerah Depok. Tepatnya di Kecamatan Rangkapan Jaya. Di sini saya telah tinggal dua tahun. Dua kali Hari Kemerdekaan Republik Indonesia telah saya alami di daerah yang tak terlalu ramai ini. Pun dua kali Hari Raya Idul Fitri juga telah saya nikmati.

Jum’at malam saya diberitahu oleh ibu bahwa esok hari warga-warga yang tinggal di sekitar rumah akan berkumpul. Ibu berpesan jangan sampai tak datang. Lewat ponsel pintar, pesan saya kirimkan ke ibu, “Ok bu.”

16 Agustus 2014 jatuh pada hari Sabtu. Dini hari saya kembali dari rumah. Terlanjur diserang kantuk, saya rubuh. Tengah hari, saya bangun. Alih-alih mencari ibu, saya turun. Ibu terlihat sedang menggoreng kerupuk.

“Buat apa bu goreng krupuk?” tanya saya dari dalam kamar mandi.

“Buat acara nanti malem. Kamu jangan lupa datang.” jawab ibu sambil membalik kerupuk ikan agar tak gosong.

Magrib pun tiba. Saya segera mandi dan bergegas menyusul ibu dan bapak yang telah terlihat sibuk di depan rumah. Alunan lagu dangdut terdengar. Satu persatu warga mulai datang. Pria-pria ada yang memakai baju koko, sementara perempuan ada yang memakai baju muslim lengkap dengan kerudungnya. Tua dan muda bergabung. Anak-anak kecil berlarian di jalan yang cukup sepi. Tampak keriangan menjalar di anak-anak tersebut.

“Halo Mas. Apa kabar?” tanya saya ke seorang tetangga yang sedang asyik merokok.

“Baik. Gak kerja hari ini?” tanya balik ke saya.

“Hehehe. Lagi gak kerja Mas.” jawab saya mencairkan suasana.

“Ayo mari masuk.” ajaknya masuk.

Sebuah rumah yang baru dibangun dan belum ditempati disulap menjadi tempat berkumpul.  Saya pun masuk. Tetiba suasana hening. Riuh anak-anak tiba-tiba hilang. Semua duduk bersimpuh di atas tikar yang telah disiapkan.

“Assalamualaikum warahmaturallahi wabarokatuh. Selamat malam bapak-bapak, ibu-ibu, dan adik-adik. Esok hari, 17 Agustus 2014 kita memperingati hari kemerdekaan Indonesia. Marilah kita panjatkan doa untuk para pejuang-pejuang kita yang telah gugur membela Indonesia. Al-Fatihah.” ucap Pak Eko membuka acara kumpul warga.

Pak Eko melanjutkan dengan membaca Surat Al-Baqarah yang diikuti oleh warga-warga. Saya akhirnya tahu acara ini. Tujuan berkumpulnya warga-warga di sekitar rumah saya adalah berdoa untuk para pejuang Indonesia. Suasana pun menjadi hikmat. Kepala-kepala tertunduk sambil mulut mengucap ayat-ayat Al-Qur-an.

“Astagfirullah alazim. Astagfirullah alazim. Astagfirullah alazim.” Pak Eko melafalkan istigfar.

Saya merinding ketika setiap doa terucap. Sempat terpikir jika para pejuang mendengar di dalam alam barzah. Bagaimana reaksinya ketika doa terkirim. Pastinya akan senang.

“Alhamdulillahirabbil alamin. Arrahmanirahhim….” untaian Surat Al-Fatihah dilafalkan sebelum menutup acara doa bersama.

“Semoga doa-doa yang kita kirimkan, diijabah oleh Allah SWT” kata Pak Eko menutup acara.

“Amiiinnn.” ucap warga-warga serentak.

Acara doa bersama ini ditutup dengan makan bersama. Makanan-makanan dibawa secara sukarela oleh para warga. Sungguh kebersamaan yang luar biasa. Semua lahap menyantap makanan yang seadanya dihidangkan. Anak-anak tak mau kalah. Mereka makan bersama para orangtuanya.

Bagi saya yang hidup hampir seperempat abad ini, bentuk perayaan kemerdekaan seperti ini adalah hal yang baru. Hampir setiap tahunnya dulu saya hanya mengikuti lomba-lomba dan pengibaran bendera. Saya bangga. Terima kasih para pejuang kemerdekaan. Semoga arwahmu diterima di tempat terbaik di sisi-nya. Jasamu abadi!