Dalam Ingatan Tentang Kakek

Adi memacu gas motor kesayangannya tanpa belas kasih. Mesin motornya berteriak kencang. Angin malam menjadi temannya di sepanjang jalan. Jaket jeans membalut badannya, yang kata teman-teman Adi, seperti tinggal tulang.

Saat itu hari sudah gelap. Jalan Raya Margonda, Depok tampak lengang. Hanya ada beberapa pengemudi ojek daring dan mobil-mobil pikap yang menjajakan tahu bulat nan hangat di pinggir jalan.

“Aku harus cepat sampai rumah,” Adi membatin.

Sejauh ini, ia sudah berkendara sekitar 40 kilometer dari barat kota Jakarta. Motor yang ia kendarai sebenarnya sudah layak untuk masuk “museum”. Maklum, peninggalan dari sang kakek di Magelang. Jadi, betul-betul ia rawat betul.

Ia mengingat sekali apa kata kakeknya.

“Nduk, mbah kepingin motor iki diopeni. Ben, anakmu iso nganggo motor iki. (Dek, kakek mau motor ini diurus. Supaya, anak kamu bisa pakai motor ini),” kata Mbah Padmo, kakek Adi sebelum meninggal pada tahun 2010.

“Njih, Mbah (Iya, mbah),” balas Adi.

Mbah Padmo dulu sering naik motor tua itu. Bukan sembarang motor. Motor Mbah Padmo adalah motor kenangan semasa hidupnya. Honda CB 100 keluaran tahun 1970 itu motor Mbah Padmo. Kelir merah marun warnanya.

“Mbah ketemu Mbah Uti jaman biyen ning Alun-Alun Kota Magelang. Cedak water toren iku, Di. Kuwi wis ono kiro-kiro jak jaman Londo. Lah, montor e yo CB iki (Kakek ketemu nenek jaman dulu di Alun-Alun Kota Magelang. Deket water toren itu. Lah, motornya ya CB ini),” ujar Mbah Padmo saat Adi mengingat ucapan kakeknya.

Cerita kakek Adi terus lekat di ingatan.

*

Beberapa waktu sebelumnya, Adi pergi ke sebuah kafe di bilangan Cipete, Jakarta. Kafe dengan model kekinian. Ia datang bersama dua orang rekannya.

“Di, udah lama nunggu?,” kata Andaru sambil menepuk bahu Adi.

“Belum, kok, Ru,” jawab Adi.

Mereka duduk berhadapan. Seorang pelayan datang menghampirinya. Dia berseragam serba hitam dengan sebuah kain tenun melingkar di lehernya.

Sang pelayan menyodorkan selembar daftar menu.

“Pesan apa?”

“Saya ice latte dan kentang goreng,”

“Baik. Ditunggu ya, Mas,”

Adi melanjutkan obrolannya dengan Andaru. Alunan musik bossanova menemani mereka. Bangku-bangku lain juga terlihat terisi.  Kebetulan, kafe tempat mereka nongkrong adalah lokasi yang strategis dan terlaris di layanan pesan antar oleh ojek daring.

“Kakek lo apa kabar, Ru?”

“Sehat, Di. Kemarin gw abis main ke Yogya. Kakek gw kadang masih suka ke Candi Borobudur,”

“ooohh, syukur kalo gitu Di,” ujar Adi sambil menunduk.

Andaru sempat bingung. Sangat jarang Adi bertanya ihwal kakek Andaru. Paling banter, Adi suka menanyakan kabar ibu Andaru.

Mereka adalah karib lama. Sedari di sekolah dasar, Adi dan Andaru telah bermain bersama. Mereka dulu bersekolah di SDN 03 Pagi Gandaria Utara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Mereka bercengkerama hingga larut malam. Segelas ice latte dan kentang goreng menjadi cemilan pengantar.

Lalu, Adi pamit untuk pulang. Andaru pun pulang. Mereka berpisah di perempatan Jalan Raya Pondok Labu. Andaru menuju Ciputat dan Adi ke arah Depok.

*

Derit alarm jam memekakkan telinga Adi. Ia segera meloncat dari tempat tidurnya. Kamar mandi adalah tujuannya.

“Gawat nih. Bisa telat nih gw. Mana dosennya galak lagi,”

Hari itu Adi harus mengikuti kuliah Sejarah Kolonial. Mata kuliah tersebut harus masuk tepat waktu. Adi harus tiba di Universitas Indonesia pukul 08.00 WIB. Sementara, jam telah menunjukkan pukul 07.30 WIB ketika ia bangun dari lelap.

Perjalanan dari rumahnya menuju kampus memakan waktu lebih kurang 15 menit. Ia langsung mandi koboi.  Rambutnya yang rada gondrong itu, ia sisir dengan cekatan.

Brum..brumm..

Adi membetot gasnya menuju kampus.

Ternyata ia terlambat 20 menit. Kelasnya sudah dimulai. Dosennya memberikan hukuman untuk Adi yakni menceritakan tentang subyek kuliahnya.

“Kakek saya dulu membantu Jenderal Soedirman di Magelang. Dulu ia kasih makanan ke tentara-tentara gerilya. Pak Dirman juga pernah menginap di rumah kakek buyut saya,” ucap Adi bersemangat di depan teman-temannya.

*

“Di, cerita lo tadi seru deh,” kata Syifa, rekan perempuannya di kantin.

“Iya, Fa. Kebetulan kakek gw pejuang,”

“Lo masih sempet ketemu kakek?, ”

” Masih, Fa. Bulan puasa 7 tahun yang lalu. Kakek gw sekarang dimakamin di Magelang,”

“Oh,”

Mereka berbincang hingga jelang magrib. Kantin siang itu tak terlalu penuh. Seperti biasa banyak yang duduk,  tertawa, dan juga bermain kartu di beberapa meja.

“Gw harus pergi, Fa. Ada urusan sebentar,”

“Oke, Di. Hati-hati. Kabarin lagi ya,” kata Syifa sambil menepuk pundak Adi.

*

Di samping Adi, duduk seorang laki-laki berambut putih total. Badannya kering kerontang. Orang-orang berlalu lalang tanpa henti. Sang kakek hanya duduk sambil memegangi perutnya. Matanya nanar. Mulutnya terdiam membisu.

Adi saat itu tengah berada di Kawasan Kota Tua. Kebetulan, ia mendapat pekerjaan tambahan untuk menulis tentang wisata Kota Tua.

“Kakek, sudah makan?,”

“Belum, De. Masih menunggu cucu lagi pergi main. Katanya nanti mau bawa makan,”

Sebenarnya, Adi mesti melanjutkan tugasnya. Namun, ia pergi ke sebuah warung kecil untuk membelikan kakek itu roti dan teh manis hangat.

Suasana di Kota Tua tetiba riuh. Semua orang berkumpul di tengah pelataran area yang dulu pernah dikuasai oleh Belanda. Tetiba aparat berseragam coklat juga merapat ke tempat ia persis duduk tadi.

“Ada apa, Pak?” tanya Adi sambil memegang kantong plastik berisi roti dan teh manis hangat.

“Itu ada kakek-kakek meninggal, Dek,”

Bak petir di siang bolong, Adi tersentak. Ternyata kakek yang meninggal itu adalah yang tadi berbincang dengannya. Adi terguncang. Ia tak menyangka dalam hitungan kurang dari setengah jam, ia telah berpisah dengan kakek itu.

Air matanya mengalir. Lidahnya kelu. Tangannya gemetar. Kebingungan melanda dirinya. Sementara, semua orang masih berkerumun. Polisi masih mengamankan sekitar tempat kejadian perkara sambil menunggu pihak rumah sakit untuk datang. Cucunya pun juga belum datang.

Sungguh. Adi tak kuasa melihat peristiwa itu. Lalu, ia melangkah menuju tempat motornya diparkir.

Adi teringat bahwa esok hari harus pergi ke Magelang. Ia bersama orang tuanya akan menziarahi makam kakeknya. Keretanya akan berangkat pada pukul 07.00 WIB dari Stasiun Pasar Senen. Sawunggalih Pagi nama keretanya. Momen itu tepat pada hari Lebaran.

Adi masih teringat betul bagaimana percakapan dengan seorang kakek tua itu. Sosok kakek itu terus membayang di kepala Adi selama perjalanan menuju Depok.

Ia langsung tancap gas dengan motor tuanya itu.

“Kakek, aku besok datang ke kampung halaman. Makammu pasti sudah kotor, Kek,”

(Katanya) Purnama Datang

Bulan Purnama, Supermoon, Anak kecil

Bulan purnama yang terang benderang. Foto: Google

Kabar pun perlahan tiba. Semua bersorak. “Horeeee purnama datang” sorak anak-anak kecil kegirangan.

Satu persatu anak-anak mulai keluar dari rumah untuk bermain. Tangannya menggenggam mainan-mainan yang dimilikinya. Sebuah lapangan di sebelah rumah tetiba penuh dengan anak-anak kecil. Mungkin kelihatannya mereka masih kelas 4 sd. Rupa-rupanya mereka akan sibuk bermain malam ini.

Tiwi.. dolanan congklak yuk” ajak Nabila sambil menarik tangan Tiwi.
Ayo Bil.. cedak bangku kono yo.” jawab Tiwi sambil menunjuk ke arah bangku.
Ayuuk.. ayuukkk..” sambil berlari dengan kegirangan

Sementara yang lain sibuk dengan kelompoknya masing-masing. Manyu tak mau kalah dengan para perempuan. Diambilnya ranting kayu. Nampak tak jelas apa yang akan ia perbuat. Mungkin akan mengganggu para perempuan yang sedang asyik bermain. Ah jangan. Nabila dan Tiwi sedang nampak serius sekali menaruh biji-biji congklak. Terkadang mereka saling melempar tawa. Manyu berputar-putar di sekitar lapangan. Matanya menyasar setiap detil lapangan. Sandalnya menyapu tanah. Batu-batu disingkirkannya.

Dengan sepeda merek Federal, Andi dan Fikri mendadak mengerem. Fikri dibonceng Andi. Anak-anak Desa Pethuk makin ramai berkumpul di sebuah lapangan bulutangkis dekat balai desa.

Nyu..kamu jik opo tohh. Muter-muter wae.” tanya Andi keheranan dengan logat jawanya yang kental.
Mending otak-atik pit ku wae. Biar munine kueenceneng iki” ajak Fikri sambil mengambil bekas air mineral gelas.
Ah sik yoo. Aku due dolanan apik iki” sambil membentuk sebuah garis di tanah.

Andi dan Fikri diam dan termenung di samping sepeda antik pemberian bapaknya Andi. 10 menit sibuk berputar-putar dengan ranting kayu, akhirnya terbentuk sebuah gambar dengan ukuran besar. Peluh bercucuran membasahi kaos yang kuning kumal itu. Tiga kotak yang berjajar secara vertikal, lalu dilanjut di atasnya dua kotak berjajar horizontal, satu kotak, dua kotak secara horizontal, dan ditutup dengan setengah lingkaran di ujungnya.

Nah yukk main” ajak Manyu kepada Andi dan Fikri
Oalaaahh. Tak kira opo tohh” Andi dan Fikri tertawa.

Di tengah lapangan, sekitar 13 orang meliuk-liuk sambil bernyanyi. Dua orang lainnya, berhadapan sambil berpegangan seperti membuat terowongan. Angin bertiup membelai rambut anak-anak yang kakinya hanya beralaskan kulit ini. Mereka tak menghiraukan dinginnya malam. Dinginnya malam malah menjadi teman.

Naik kereta api.. tut.. tut.. tut..siapa hendak turun” terdengar suara anak-anak bernyanyi sambil
ahhh .. sial aku kena” keluh satu anak yang terjebak.

Keriangan itu berlanjut terus sampai malam. Hingga akhirnya para orang tua masing-masing datang menjemputnya. Orang tua anak-anak tersebut tak ada yang marah. Malah datang sambil membagi-bagikan kue. Malam di bawah terang bulan di Desa Pethuk terasa ramai. Gelak tawa, keriangan yang dirindukan siapa pun ketika menyambut terang bulan purnama.
Akahkah terang bulan purnama ini masih menyisakan keriangan ala masa kecil?

Terlahir Kembali

harapan, aksara, cahaya, gelap, hitam, lahir

Berawal dari gelap, nantinya akan tiba sang cahaya menyambut kelahiran kembali sang aksara

Malam ini, 19 Juli 2014 menjadi hari yang menentukan bagi saya. Mengapa menentukan? Karena saya memutuskan untuk membuat satu wadah (lagi) untuk menyalurkan minat menulis. Mengapa demikian? Sebenarnya saya memiliki blog lain yang telah saya kelola sejak 2012 lalu. Namun, saya merasa sangat dibatasi di sana. Blog saya tersebut hanya fokus sekitar pengalaman jalan-jalan -traveling- yang saya alami. Saya menyadari begitu banyak pengalaman yang dapat digoreskan dan diceritakan ke khalayak luas.

Terlahir kembali menjadi pilihan pertama judul postingan di blog ini. Saya memaknai bahwa terlahir kembali adalah hal yang sangat menyenangkan. Sebenarnya adalah hal yang tidak mungkin tentang konsep terlahir kembali dapat dilakukan. Ah, hanya mimpi jika menyadari kita terlahir kembali secara fisik. Namun di sini, terlahir kembali adalah konsep pemikiran yang lama terkekang bak dipenjara dan akhirnya kembali menemukan dunianya seperti sediakala. Terlalu liar memang. Ya, memang pemikiran di kepala yang liar ini sejatinya harus mendapatkan wahananya sendiri.

Salah satu sosok yang menginspirasi saya untuk tetap menulis hingga saat ini adalah Pramoedya Ananta Toer. Selain itu, Soe Hok-Gie dan Norman Edwin tetap ada dalam daftar penulis yang mampu mendokumentasikan catatan hariannya secara detil. Satu kutipan bijak dari Pramoedya Ananta Toer yang kerap membayangi benak saya adalah “Orang boleh pandai, setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian”. Saya menyadari bahwa saya bukan orang yang pandai. Namun dengan menulis saya telah berusaha untuk mencapai keabadian. Biarlah saya tak lekang dimakan waktu.

Maafkan saya jika terlalu meledak-ledak. Biarlah ledakan ini menjadi awal dari kebangkitan tradisi literasi yang harus terus dilestarikan. Semangat ini semoga terus dapat dijaga. Proses menjadi adalah satu hal yang mengasyikkan. Apalagi jika didokumentasikan. Deretan aksara dan rekaman gambar akan siap membawa kita ke dimensi lain. Selamat beraksara!

Depok, di sebuah ruang kecil yang dingin. 19 Juli 2014