Kenangan Antara Soemantri Brodjonegoro dan Mapala UI

Soemantri Brodjonegoro adalah seorang ilmuwan dan teknokrat yang mendedikasikan hidupnya di bidang ilmu pengetahuan maupun di bidang-bidang lainnya untuk bangsa. Soemantri Brodjonegoro juga merupakan Rektor Universitas Indonesia yang menjabat di dua masa kepemimpinan yaitu 1964-1968 dan 1968-1973 (http://id.wikipedia.org/wiki/Sumantri_Brodjonegoro). Pada tahun 1964, ia -Soemantri Brodjonegoro- diangkat menjadi Rektor Universitas Indonesia oleh Presiden Sukarno (Nizam Yunus, 2007:3). Namun pada tanggal 18 Desember 1973,  Prof. Soemantri dipanggil oleh Tuhan Yang Maha Esa pada umur 47 tahun. Pengabdian hidupnya dikenang oleh masyarakat Indonesia dengan jejaknya yang dalam. Begitupun dengan sekelumit cerita dengan organisasi Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Indonesia yang terkenang ketika melakukan ekspedisi pendakian ke Puncak Jaya, Pegunungan Jayawijaya, Papua.

Berikut ini adalah tulisan yang ditulis ulang dari sebuah artikel di dalam buku “Soemantri Brodjonegoro, Teguh di Jalan Yang Lurus karya Nizam Yunus yang diterbitkan oleh Lembaga Penerbit FEUI pada tahun 2007 yang berjudul “Dengan Mahasiswa Pendaki Gunung”. Penulis buku tersebut juga merupakan anggota Mapala UI dengan nomor anggota (M-065-UI). Sebuah penghormatan kepada Alm. Prof. Soemantri Brodjonegoro, Alm. Nizam A. Yunus, dan Mapala UI. Tulisan ini dilengkapi ilustrasi foto kegiatan ekspedisi Puncak Jayawijaya milik Mapala UI yang tidak ada di dalam buku aslinya.


Sumantri Brodjonegoro, Universitas Indonesia, Mapala UI, Puncak Jaya

Prof. Soemantri Brodjonegoro merupakan tokoh penting yang berjasa dalam perkembangan ilmu pengetahuan bangsa Indonesia. Sumber Foto: Wikipedia

Pada tahun 1970, mahasiswa pendaki gunung anggota Mapala UI meminta izin kepada Rektor untuk melakukan ekspedisi pendakian ke Puncak Carstens yang ditutupi salju, di Pegunungan Jayawijaya, Irian Barat (nama Papua ketika itu). Prof. Soemantri agak terkejut dengan niat para mahasiswa itu karena menurut pikirannya, mana mungkin mahasiswa yang masih muda ini, tanpa pengalaman, akan bisa melakukan pendakian ke puncak bersalju itu. Setelah mendengarkan permohonan dan penjelasan dari para mahasiswa tentang maksud mereka, ia bertanya, apakah tidak berbahaya?

Prof Soemantri sudah tahu medan pegunungan itu karena ia pernah meninjau pembangunan pertambangan PT. Freeport yang berada di d Pegunungan Jayawijaya tersebut. Oleh karena itulah ia ragu bahwa pendakian itu akan bisa dilakukan. Ia mengkhawatirkan keselamatan para mahasiswa itu. Maka ia pun menolak memberikan izin.

Tapi para mahasiswa tidak mundur. Setelah ditolak, mereka tetap bersikeras meminta diizinkan, dan Prof. Soemantri tetap tidak memberikan izin. Setelah cukup lama tidak berhasil menyakinkan Rektor, pimpinan ekspedisi Henry Walandouw (mahasiswa FIPK, sekarang FISIP), mendatangi Ketua DMUI Hariadi Darmawan, meminta Hariadi membantu mendapatkan izin rektor. Hariadi pun menghadap Rektor dan turut meminta izin itu, sekaligus Hariadi ingin menunjukkan dukungan DMUI terhadap rencana ekspedisi tersebut.

Hariadi menceritakan bahwa untuk meyakinkan Rektor memang tidak mudah karena menurut Prof. Soemantri pendakian itu berbahaya. Alasan yang dikemukakan Hariadi untuk meyakinkan Prof. Soemantri adalah bahwa kegiatan itu positif dan menunjukkan mahasiswa tidak hanya suka ribut urusan politik saja. Apabila alasan keberatan rektor adalah karena mengkhawatirkan keselamatan tim ekspedisi, paling tidak berikan saja izin mendaki sampai ke batas daerah yang tidak berbahaya.

Akhirnya, setelah Ketua DMUI ikut memintakan izin, Prof. Soemantri bersedia memberi izin, tapi ia akan meninjau lebih dulu daerah tujuan ekspedisi itu. Ia memang kemudia pergi meninjau lokasi dengan helikopter milik PT. Freeport. Sekembalinya dari peninjauan itu, ia bersedia memberikan izin ekspedisi, tetapi melarang para anggota MAPALA mendaki daerah bersalju. “Berbahaya, saya lihat salju-salju berjatuhan terus. Kalian sendiri kan belum berpengalaman mendaki di medan yang demikian” katanya.

Setelah mendapat izin, pimpinan ekspedisi Henry Walandouw dan seorang anggota tim ekspedisi Heru Budiargo (mahasiswa FE), menemui Prof. Soemantri meminta Surat Rekomendasi Rektor, untuk mereka gunakan mengurus berbagai hal guna pelaksanaan ekspedisi tersebut, termasuk mencari sumbangan. Dalam pertemuan itu, Prof. Soemantri menyampaikan bahwa ia senang dengan kegiatan ekspedisi itu karena kegiatan itu menunjukkan suatu idealisme yang baik. Tetapi ia menyarankan agar kegiatan ini menampilkan segi ilmiah, sesuai dengan ciri perguruan tinggi. Aspek ilmiah perlu ditonjolkan. Maka dalam surat rekomendasi, ekspedisi ini disebut sebagai ekspedisi ilmiah. Saat itu ia tetap melarang pendakian ke puncak salju.

Sejak itu para anggota MAPALA yang akan mengikuti ekspedisi beberapa kali menghadap Prof. Soemantri karena ia meminta melaporkan perkembangan persiapan ekspedisi itu. Dasar anak muda, setiap bertemu para mahasiswa itu terus berusaha meminta diizinkan mendaki puncak salju. Henry Walandouw, pimpinan ekspedisi, dan Hadijojo, salah seorang anggota tim pendaki yang kebetulan adalah mahasiswa FIPIA dan telah kenal Prof. Soemantri, bercerita bagaimana mereka beramai-ramai terus berusaha menyakinkan Prof. Soemantri bahwa mereka telah mempersiapkan diri untuk menghadapi medan salju itu, agar diizinkan mendaki puncak salju.

Walau belum pernah, kita kan perlu pengalaman baru, dan kita sudah berlati mempersiapkan diri“. “Ini kan kesempatan kami untuk learning by doing”. Begitulah antara lain argumen-argumen yang mereka sampaikan bersama-sama kepada Prof. Soemantri. Setiap datang menemui Rektor, mereka membawa argumen baru.

Menghadapi kegigihan mahasiswa itu, Prof. Soemantri juga tidak kalah gigihnya. Ia mempertanyakan kesiapan mereka. “Kami harus menjelaskan dengan rinci segala soal teknis pendakian” kata Henry Walandouw. Herman Lantang (mahasiswa jurusan Antropologi) yang pernah cukup lama tinggal di Lembah Baliem di tengah Suku Dani, dan bertugas sebagai pimpinan pendakian, menjelaskan dengan rinci segala persiapan teknis pendakian. Ketika Prof. Soemantri bertanya, bagaimana makannya, Herman menjawab “Kita minum madu“. Mereka pun menjelaskan bahwa Henry Walandouw dan Herman Lantang telah melakukan penjajagan lebih dulu ke Irian, dan telah mendapatkan dukungan Gubernur Irian Barat, Acub Zainal.

Berbulan-bulan namanya usaha mahasiswa itu, tapi Prof. Soemantri tetap pada pendiriannya. Akhirnya, setelah para mahasiswa itu mengatakan bahwa mereka akan memilih rute yang aman yaitu rute ekspedisi Cendrawasih, dari Beoga ke Puncak Jaya, Prof. Soemantri mengizinkan ekspedisi pendakian setelah para mahasiswa mengatakan mereka hanaya akan mendaki sampai batas salju. “Paling tidak kita bisa pegang salju” cerita Hadidjojo. Izin yang diberikan Prof. Soemantri hanya boleh sampai ke batas salju.

Selama proses mempersiapkan ekspedisi itu, karena beberapa kali bertemu, dan seperti biasa ia selalu sabar mendengarkan mahasiswa, hubungan Prof. Soemantri denga para pendaki pun menjadi cukup dekat. Para mahasiswa pun dapat merasakan bahwa, seperti dikatakan Henry, larangan dari Prof. Soemantri bukanlah untuk menghambat, melainkan semata untuk melindungi.

Prof. Soemantri memang berhati-hati dan tetap khawatir. Karena itu ia juga aktif menghubungi pihak Departemen Pendidikan dan Kebudayaan karea ada pertanyaan dalam dirinya, apabila terjadi sesuatu, apakah masih tanggung jawab Rektor?

Demikianlah, ekspedisi MAPALA berangkat pada pertengahan 1972. Ketika meminta diri sebelum berangkat, kepada anggota ekspedisi Prof. Soemantri berpesan “tak boleh ada kecelakaan”.

***********

Mapala UI, Puncak Jaya, Ekspedisi

Rabu, 23 Februari 1972, tujuh orang anggota Mapala UI berhasil mencapai Puncak Jaya. Mereka adalah Herman Lantang, Heru Budiargo, Sinarmas Djati, Iqbal Rahimsyah, Utjun Djajanegara, Freddy Lasut, James Turangan, dan Hadidjojo Nitimihardjo.

Mapala UI, Universitas Cendrawasih, Ekspedisi Irian, Gubernur Papua

Berdiri, Kiri ke Kanan: Iwbal Rahimsyah, Samuel Mustamu (Uncen), Attabrani Kusuma, Benny Mamoto, Retno Sukardan, Gubernur Frans Kaseipo, Djuwita Buntaran, Henry Walandouw, Wakil Gubernur, dan Hadidjojo Nitimiardjo. Duduk dari kiri: Elimas Huwae (Uncen), Sukiyato Martorejo, Herman Lantang, Sinarmas Djati, James Turangan, Utjun Djajanegara, dan Michael Rumbiak.

Seperti diketahui, ekspedisi berhasil mencapai puncak salju. Sesuai dengan kesepakatan bahwa ekspedisi ini adalah ekspedisi ilmiah, tim ilmiah rombongan ekspedisi juga telah melakukan penelitian di beberapa tempat. Mereka kembali ke Jakarta pada pertengahan April 1972. Berita tentang pendakian itu pun muncul di media, lengkap dengan foto-foto. Prof. Soemantri terkejut ketika melihat foto para pendakidi puncak salju. Ia segera memanggil Hariadi Darmawan. “Saya dimarahi pak Soemantri karena beliau merasa dibohongi oleh tim ekspedisi yang telah berjanji hanya akan mendaki sampai ke batas salju“, cerita Hariadi.

Menghadapi teguran Rektor itu, Hariadi hanya menjawab bahwa mereka kan telah kembali dengan selamat, dan tim itu sukses. Hal itu baik bagi UI, menunjukkan prestasi mahasiswa UI. Prof. Soemantri diam saja karena yang membuat kesal adalah karena “merasa diakali” anak-anak. Tetapi sejak itu ia sudah percaya pada mereka. Maka ketika itu MAPALA-UI merencanakan ekspedisi kedua setahun berikutnya, ia memberi dukungan penuh.

*****************************

Badge Mapala UI, Emblem, 1964,

Di sebelah kiri -dalam foto- merupakan badge Mapala UI ketika masih bernama Mapala Prajnaparamitha, sedangkan di sebelah kanan ketika sudah bernama Mapala UI. Ketika proses perubahan ke Mapala UI, Prof. Soemantri Brodjonegoro sebagai rektor mendukung penuh proses penyatuan kelompok pencinta alam fakultas yang ada lingkungan Universitas Indonesia.

Para mahasiswa pendaki gunung dan pencinta alam punya kenangan khusus dengan Prof. Soemantri. Pada tahun 1970, berbagai kelompok pendaki gunung dan pencinta alam di berbagai fakultas di UI memutuskan bergabung menjadi satu organisasi, yaitu MAPALA UI (mengambil nama organisasi pencinta alam di Fakultas Sastra yang telah ada sejak tahun 1964). Menurut format organisasi kemahasiswaan ketiaka itu, semua kegiatan mahasiswa resminya bernaung di bawah DMUI dan Senat Mahasiswa UI. Ketika organisasi MAPALA UI diresmikan, statusnya adalah organisasi otonom, yang langsung bertanggung jawab ke Rektor. Jadilah MAPALA-UI sebagai organisasi kemahasiswaan berstatus otonom yang pertama di UI. Itu adalah hal yang baru dalam format organisasi kemahasiswaan di UI ketika itu.

Bahwa Prof. Soemantri membolehkan, adalah sesuatu yang punya arti bagi para mahasiswa. Bagi para mahasiswa pendaki gunung dan pencinta alam, status seperti itu mereka inginkah karena tidak ingin organisasi pendaki gunung dan pencinta alam terbawa tarik menarik setiap terjadi pergantian pengurus Senat Mahasiswa atau Dewan Mahasiswa, walaupun di antara mereka juga ada yang menjadi anggota dan aktivis SM atau DM atau organisasi ekstra atau aktif dalam gerakan aksi.

Mulai saat itulah Prof. Soemantri mulai tahu tentang kegiatan mereka, saat ia sedang sibuk menyelesaikan soal pertentangan mahasiswa dalam DMUI, dan sibuk meredam berbagai aksi-aksi mahasiswa.

Ketika Prof. Soemantri sakit, para pendaki gunung itu sempat memberikan darah untuk transfusi yang harus dijalani oleh Prof. Soemantri. Kebetulan, salah satu seseorang yang golongan darahnya cocok adalah tim pendaki yang ikut ke Puncak Salju, yaitu Heru Budiargo.

Setelah Prof. Soemantri meninggalkan dunia, mereka berinisiatif memberi nama salah satu puncak di Pegunungan Jayawijaya, yaitu puncak yang biasa disebut Puncak Kedua Dari Dinding (karena belum bernama), menjadi Puncak Soemantri. Untuk itu, pada tahun 1976, empat orang pendaki gunung MAPALA-UI, Iqbal Rahimsyah, Heru Budiargo, Marulam Panggabean, dan Sjahfiri Gafar, mendaki ke puncak bersalju itu untuk menanamkah log book yang di dalamnya ditulis dengan nama Soemantri Brodjonegoro. Begitu tradisi memberi nama sebuah puncak gunung.

**********************************

Catatan

Ekspedisi pendakian Puncak Jayawijaya Mapala UI pada tahun 1972 merupakan ekspedisi Mapala UI pertama. Ekspedisi ini bernama Ekspedisi Irian 1972. Tim ekspedisi dibagi menjadi dua tim yaitu tim pendakian dan tim penelitian. Tim ekspedisi yang melakukan pendakian adalah Herman Lantang (M-016-UI), Sinarmas Djati (M-044-UI), Heru Budiargo (M-045-UI), Iqbal Rahimsyah (M-043-UI), Utjun Djajanegara (MK-059-UI), Freddy Lasut (M-034-UI), James Turangan (M-057-UI), dan Hadidjojo Nitimihardjo (M-037-UI). Hari Rabu, 23 Februari 1972, tujuh anggota Mapala UI berhasil Puncak Jaya di ketinggian 4.675 mdpl. Sementara tim penelitian adalah Retno Hadianti Sukardan Mamoto (M-032-UI), Sukiyato Martorejo (M-054-UI), Benny Mamoto (M-121-UI), dan Djuwita Buntaran (M-104-UI). Selain itu saat itu, persiapan ekspedisi juga banyak ikut terlibat, malah tidak sungkan turun tangan dan menangani tugas yang diatur ketat Henry Walandouw. Misalnya Utun Leman Kartakusuma (MK-226-UI), Don Hasman (MK-225-UI), Effendy Soleman (MK-874-UI), Zantoro Zanzibar, dan rekan lain yang bukan anggota Mapala atau bahkan bukan warga UI sekalipun, tetap ikut bantu-bantu dan kerja-kerja (Yayak M. Saat, dkk:2005:12).

Pemberian nama Puncak Soemantri (4.850 mdpl) di dalam log book berhasil dikukuhkan oleh Iqbal Rahimsyah (M-043-UI), Marulam Panggabean (M-056-UI), Heru Budiargo (M-045-UI), dan Syahfiri Gaffar (M-088-UI) pada tanggal 16 Februari 1976. Pemberian nama itu untuk menghormati Prof. Soemantri Brodjonegoro yang banyak berjasa mambantu terbentuknya Mapala UI pada tahun 1971 dan mendukung kegiatan selanjutnya, ketika beliau menjabat sebagai Rektor UI dan Menteri Pertambangan RI. Terima kasih Alm. Prof. Soemantri Brodjonegoro atas kenangan yang berhasil terekam jelas di buku biografi karya Alm. Nizan Yunus.

“Mapala UI bukanlah organisasi yang besar atau dibesarkan, tetapi, Mapala UI adalah organisasi yang selalu berusaha membesarkan dirinya” (Alm, Soemantri Brojonegoro (Rektor UI, 1970).

Sumber:

Saat, M. Yayak, dkk. (2005). Jejak Kampus di Jalan Alam. Depok: Badan Pengurus Mapala UI.

Yunus, Nizam. (2007). Soemantri Brodjonegoro: Teguh di jalan lurus. Jakarta: Lembaga Penerbit FE-UI.

http://id.wikipedia.org/wiki/Sumantri_Brodjonegoro

Dokumentasi Foto Mapala UI

 

*Tulisan ini telah diterbitkan di halaman Kompasiana pada tanggal 4 Juli 2014*