Hujan Bulan November

Semua kini bersorak. Tangan ditengadahkan ke langit. Syukur terucap dari kaum-kaum yang nestapa yang bak kamar mandinya tak terisi. Tanah gembur kembali sediakala. Air sungai mulai meninggi. Anak-anak bisa menemukan hiburan nan murah. Ya, sekarang sudah mulai hujan. Aku mulai merasakan air turun dari langit dan beringas menghajar wajah.

Awal November, cerita itu dimulai. Kabar mulai tersiar ke penjuru nusantara. Bahwasanya hujan telah mengurangi jumlah titik api di hutan-hutan gambut dilahap api yang tak bertanggung jawab. Asap mulai menipis. Warga bisa menghirup udara segar. Aku adalah orang yang hanya dapat tersenyum kembali mendengar berita baik ini. Aku rasa kamu pun juga demikian. Mari kita bergembira. Pak tani di desa-desa yang jarang kita temui pasti tersenyum pada pagi hari ketika mulai mengunjungi sawah.

Sapardi pernah menuliskan sebuah puisi berjudul “Hujan Bulan Juni”. Ia menggambarkan tentang ketabahan, kearifan, dan bijaknya hujan bulan Juni. Bahwa jejaknya terhapus di jalan, rindunya dirahasiakan kepada bunga, dan terserap oleh akar pohon. Saat ini demikian, hujan bulan November. Ia pun mulai meninggalkan jejak-jejak nanti akan hilang yang terserap. Di tanah, hujan akan kembali menyuburkan. Ia pun akan mengisi ruang-ruang tanah dan bersiap kembali dihisap oleh mesin-mesin milik manusia.

Hari Minggu (1/11/2015) lalu, Depok diguyur hujan. Mulanya, rintik-rintik tapi kemudian langit langsung menumpahkan seluruh isinya. Semua yang berkendara dengan motor mengurangi laju dan lalu menepi ke pinggir jalan. Mereka turun dan lalu berteduh. Beda dengan pengendara mobil. Sementara aku terus membelah aspal kembali menuju singgasana. Dengan Nanu yang setia menemani setiap hari. Kali ini, Nanu pertama kali bermandi ria di tengah hujan. Dia tampak senang. Ia tak pundung di tengah hujan.

Saat melintas di Universitas Indonesia pada hari Senin (2/11/2015), hujan turun deras. Aku sebentar berteduh di Fakultas Hukum. Beberapa mahasiswa keluar dengan payung menembus hujan. Aku tak mau kehujanan. Berteduh adalah pilihan yang tepat. Sebatang rokok aku nyalakan untuk menemani dinginnya malam. Dua tiga pesan muncul di layar handphone saya. Tertulis bahwa pesan di Kalibata, Sudirman, Semanggi juga turun hujan. Aku pun ikut mengabarkan jika di Universitas Indonesia juga turun hujan.

Tak sabar aku menunggu hujan. Namun seseorang tetap mengingatkanku untuk tetap berteduh agar tak kehujanan. Ia tampak khawatir dengan kondisiku. Ah tenang saja, aku baik-baik saja. Buktinya, aku masih bisa menulis. Rasa-rasanya, kesabaranku mulai habis. Aku putuskan untuk merobek tirai-tirai hujan. Air dari langit siap menampar dan menghantamku. Niat tetap bulat. Aku pergi menyusuri jalan melewati Fakultas Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Fakultas Ekonomi hingga Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (Pusgiwa) Universitas Indonesia. Jam menunjukkan pukul 22.00.

Lama aku tak mandi hujan. Di sepanjang jalan, air nan deras kerap menutup wajahku. Mataku tak bisa melihat. Kupacu Nanu untuk segera melaju. Ia berteriak kencang. Roda-roda motorku berputar cepat. Knalpotku menggelegar. Dapur pacu Nanu bersahutan. Kubelokkan stang motor menuju Pusgiwa. Aku tiba di Sekretariat Mapala UI. Aku basah kuyup. Aku senang bisa selamat sampai tujuan. Sesuai dengan doa dari seseorang yang kusayang. Terima kasih ya. Hujan ini pertanda rindumu datang. Hujan Bulan November ini adalah kisah pertama kita berdua. Semoga tetap teduh dan wangi petrichor tetap bisa kita cium berdua.

Depok, 2 November 2015. Ketika hujan makin sering turun dan masih menunggu reda.

 

 

Advertisements