Mie Ayam dan Majalah

Mie ayam dan majalah adalah dua hal yang menjadi kombinasi yang sempurna malam ini. Bagaimana mungkin bisa? Majalah adalah bacaan, sementara mie ayam adalah makanan. Yang pertama untuk rohani dan yang kedua adalah untuk jasmani. Yang pertama untuk menambah pengetahuan, yang kedua untuk membuat kenyang.

Untuk pilihan rasa mie ayam, rata-rata semua penjual menawarkan dua pilihan yaitu kering dan basah. Pilihan basah menggunakan kuah dan pilihan kering atau biasa dikenal dengan nama yamin, tanpa kuah dan menggunakan kecap tambahan. Sementara majalah, dalam segi penyajian juga terdapat dua pilihan yaitu tercetak dan digital. Pilihan tercetak dapat dipegang secara utuh dan dibaca langsung, dan pilihan digital, tak dapat disentuh dan memerlukan alat bantu berupa gawai.

Namun, hari ini dua hal tersebut sangat berbeda walaupun sudah sangat familiar di sekitar saya. Yang membuat berbeda adalah objek yang melakukannya. Adalah dia yang mengalaminya. Juga saya tentunya. Ya, kami berdua. Kami duduk bersama di sebuah pelataran suatu tempat di mana Dian Sastrowardoyo berkuliah dulu. Juga tempat Fadli Zon menimba ilmu hingga sekarang ia bisa menjadi politisi papan atas Indonesia. Perbincangan tentang mie ayam dan majalah terasa begitu bermakna.

Sejak minggu lalu, rencana ini sudah kami buat. Semua berawal dari tugas mencari majalah. Dia mendapatkan tugas untuk mencari majalah internal maupun eksternal terbitan pemerintah atau perusahaan. Kebetulan saya memiliki beberapa majalah tersebut. Disusunlah rencana untuk berjumpa. Rencana itu berlanjut menjadi janji. Janji bertemu selepas studi yang dia lakukan.

Dari awal pertemuan, saya menjadi tahu kalau dia takut dengan anjing. Bahkan anjing yang sudah jinak. Dia sempat menghindar. Raut wajahnya memancarkan rasa takut. “Tenang. Gak gigit kok. Sudah jinak ini si Pus-Pus,” kata saya. “Enggak ah. Kan haram,” jawabnya. Ia bersembunyi di balik pagar. Sebelumnya di kamar mandi. Lucu ya. Saya juga takut sih. Tapi tak separah itu. Kalau anjing-anjing lain baru saya takut. Apalagi kalau sampai mengejar. Kadang saya membawa batu untuk dilemparkan ke anjing yang mengejar saya.

Pelataran tempat saya duduk saat ini telah banyak berubah. Dulu, waktu saya masih berkuliah, banyak mahasiswa yang duduk bercengkerama di sini. Mulai dari membahas kuliah, unit kegiatam mahasiswa, aksi-aksi berbentuk demo, acara-acara fakultas, atau cuma jadi tempat ajang pendekatan mahasiswa incaran. Namun tak jarang juga tempat ini digunakan menjadi tempat doktrinisasi aneka ideologi. Kalau dulu, saya hanya makan dan bersantai saja sambil makan gorengan, minum kopi, dan menghisap sebatang rokok.

Saya kali ini banyak bercerita tentang keluarga. Perbincangan bergulir tentang adik saya yang kini juga belum mengecap dunia perkuliahan. Dia cukup keheranan. “Dia senengnya apa emang?,” kata dia. “Ya, udah milih sih tapi gak lulus juga,” jawab saya. Lalu, berganti dengan majalah. Ia menceritakan tentang tugasnya. Menurut saya, tugasnya menarik. Ia mengambil salah satu topik yang belum pernah diambil. Satu pilihan yang jitu. Dunia menulis memang menarik untuk digeluti. Bagi saya, ucapan dari Pramoedya Ananta Toer kerap membayangi benak tiap hari.

Malam semakin larut. Mie ayam dan majalah sudah habis dilahap. Secarik uang kertas keluar dari celana jeans berwarna biru. “Matur nuwun nggeh, Bu,” ucap saya dengan bahasa Jawa yang kental. Kami berlalu. Jalan akan berganti rel. Dari motor menjadi kereta. Dari selatan menuju timur. Dari kesunyian menjadi keramaian. Dari udara malam menjadi pendingin ruangan. Namun asa masih tetap sama. Satu pengemudi yang menjalankan. Sekarang sudah pagi. Waktunya pulang. Besok masih harus ke Palmerah. Ia pun masih harus ke Depok.

Universitas Indonesia, 7 September 2015
Perjumpaan yang dinantikan