(Katanya) Purnama Datang

Bulan Purnama, Supermoon, Anak kecil

Bulan purnama yang terang benderang. Foto: Google

Kabar pun perlahan tiba. Semua bersorak. “Horeeee purnama datang” sorak anak-anak kecil kegirangan.

Satu persatu anak-anak mulai keluar dari rumah untuk bermain. Tangannya menggenggam mainan-mainan yang dimilikinya. Sebuah lapangan di sebelah rumah tetiba penuh dengan anak-anak kecil. Mungkin kelihatannya mereka masih kelas 4 sd. Rupa-rupanya mereka akan sibuk bermain malam ini.

Tiwi.. dolanan congklak yuk” ajak Nabila sambil menarik tangan Tiwi.
Ayo Bil.. cedak bangku kono yo.” jawab Tiwi sambil menunjuk ke arah bangku.
Ayuuk.. ayuukkk..” sambil berlari dengan kegirangan

Sementara yang lain sibuk dengan kelompoknya masing-masing. Manyu tak mau kalah dengan para perempuan. Diambilnya ranting kayu. Nampak tak jelas apa yang akan ia perbuat. Mungkin akan mengganggu para perempuan yang sedang asyik bermain. Ah jangan. Nabila dan Tiwi sedang nampak serius sekali menaruh biji-biji congklak. Terkadang mereka saling melempar tawa. Manyu berputar-putar di sekitar lapangan. Matanya menyasar setiap detil lapangan. Sandalnya menyapu tanah. Batu-batu disingkirkannya.

Dengan sepeda merek Federal, Andi dan Fikri mendadak mengerem. Fikri dibonceng Andi. Anak-anak Desa Pethuk makin ramai berkumpul di sebuah lapangan bulutangkis dekat balai desa.

Nyu..kamu jik opo tohh. Muter-muter wae.” tanya Andi keheranan dengan logat jawanya yang kental.
Mending otak-atik pit ku wae. Biar munine kueenceneng iki” ajak Fikri sambil mengambil bekas air mineral gelas.
Ah sik yoo. Aku due dolanan apik iki” sambil membentuk sebuah garis di tanah.

Andi dan Fikri diam dan termenung di samping sepeda antik pemberian bapaknya Andi. 10 menit sibuk berputar-putar dengan ranting kayu, akhirnya terbentuk sebuah gambar dengan ukuran besar. Peluh bercucuran membasahi kaos yang kuning kumal itu. Tiga kotak yang berjajar secara vertikal, lalu dilanjut di atasnya dua kotak berjajar horizontal, satu kotak, dua kotak secara horizontal, dan ditutup dengan setengah lingkaran di ujungnya.

Nah yukk main” ajak Manyu kepada Andi dan Fikri
Oalaaahh. Tak kira opo tohh” Andi dan Fikri tertawa.

Di tengah lapangan, sekitar 13 orang meliuk-liuk sambil bernyanyi. Dua orang lainnya, berhadapan sambil berpegangan seperti membuat terowongan. Angin bertiup membelai rambut anak-anak yang kakinya hanya beralaskan kulit ini. Mereka tak menghiraukan dinginnya malam. Dinginnya malam malah menjadi teman.

Naik kereta api.. tut.. tut.. tut..siapa hendak turun” terdengar suara anak-anak bernyanyi sambil
ahhh .. sial aku kena” keluh satu anak yang terjebak.

Keriangan itu berlanjut terus sampai malam. Hingga akhirnya para orang tua masing-masing datang menjemputnya. Orang tua anak-anak tersebut tak ada yang marah. Malah datang sambil membagi-bagikan kue. Malam di bawah terang bulan di Desa Pethuk terasa ramai. Gelak tawa, keriangan yang dirindukan siapa pun ketika menyambut terang bulan purnama.
Akahkah terang bulan purnama ini masih menyisakan keriangan ala masa kecil?

Advertisements