Persimpangan Jalan

Ada seorang manusia sedang menyusuri jalan setapak. Ia membawa ransel besar berisi bekal perjalanan. Berasal dari selatan Jakarta, ia berbadan tegap, berkulit sawo matang, dan memakai kemeja kotak-kotak. Tak lupa memakai topi untuk menyembunyikan rambutnya yang hitam lebat.

Ia berjalan di bawah rimbun pepohonan. Melihat aneka bunga-bunga bermekaran. Warna-warni bunga menyihir pandangannya. Ia melewatkan satu persatu deretan bunga matahari dan juga bunga anggrek. Keindahan bunga-bunga itu kian memenuhi otaknya. Namun, bukan itu tujuannya berjalan.

Satu tujuan terpenting baginya adalah bertemu seseorang dan menyampaikan pesan padanya. Ia terus berjalan. Butir-butir keringat menghiasi wajahnya. Beban di pundaknya dirasa tak berkurang. Dari lutut, betis, hingga telapaknya mulai terasa nyeri. Ia memutuskan untuk istirahat sejenak.

“Apakah aku akan bisa sampai?” gumamnya.

Ia membayangkan pertemuan yang luar biasa. Jalan yang akan ia lewati sungguh berliku nan terjal. Melewati tanjakan dan di kiri dan kanan terdapat jurang. Pada malam itu, ketika ia beristirahat, dingin terasa menusuk tulangnya. Tujuannya harus tercapai. Walau berat, tapi bayangan wajahnya kerap terlukis di benaknya.

Ia kembali berjalan. Di tengah perjalanannya, ia bertemu dengan seekor monyet. Monyet itu berekor panjang dan berwarna hitam. Kira-kira berumur satu tahun. Ia tampak asyik bermain dengan monyet tersebut. Diambilnya roti di dalam tas. Ia potong dan lemparkan untuk monyet tersebut. Sang monyet dengan cekatan menyambarnya. Laki-laki itu sadar tak boleh berlama-lama berhenti.

Hampir lima jam ia berjalan. Setiap kali mulai melangkahkan kaki, wajah yang akan ditemuinya selalu terbayang. Ia hanya berdoa dalam hati. Kesehatan dan keamanan adalah doa yang selalu terucap. Baginya ia adalah tujuan yang harus dicapai. Walaupun dalam prosesnya, ia harus jatuh bangun.

Di bawah pohon sengon, ia bertemu seorang kakek tua yang sedang terduduk. Ia berbincang sejenak. Kala itu, sang kakek hanya tersenyum lirih dan memberi kata-kata mutiara padanya.

“Kamu terlihat sudah jalan cukup jauh. Mau kemana dan cari siapa?” ujar si kakek tua.

“Mau ke ujung jalan. Bertemu sesorang, Kek,” jawabnya.

“Baiklah. Lanjutkan segera. Ia telah menunggumu. Hati-hati, Nak,” balas si Kakek.

Ia berlalu meninggalkan si kakek tua. Semangatnya kembali menggelora. Hingga ia tak tahu bagaimana alur tebakan si kakek. Ia berpikir ketika berjalan, “ah apa iya dia sudah menunggu?,” bisiknya dalam hati. Ketika menoleh kembali untuk bertanya, sang kakek hilang.

Hari berganti. Surya menggantikan bulan. Panas mulai menghajar. Katanya, saat ini sedang musim kemarau jadi suhu cukup tinggi. Tadi malam, dingin. Selimut tak cukup menghalau udara yang bertiup. Beruntung ketika pagi, kehangatan langsung menyinari tubuhnya. Demi seutas tujuan, ia rela kedinginan juga kepanasan.

Pada satu ketika, ia berada di persimpangan jalan. Ada dua jalan di hadapannya. Satu hal yang luput. Ia lupa membawa peta. Akhirnya ia terduduk kembali. Ia berpikir keras dan memutar otak. Tak ada orang selain dia, pikirnya. Selama perjalanan, ia hanya bertemu kakek tua yang absurd. Namun bukan berarti, hanya ia satu-satunya yang memiliki tujuan yang sama dengannya.

Di tengah kegundahannya, ia duduk termenung. Apakah ia bisa mencapai tujuannya? Kata si kakek tua, seseorang yang ia akan temui telah menunggu. Sejuta tapi menghadangnya. Ia ragu dapat mencapai ujung jalan. Jalan bercabang membuatnya skeptis. Ia mulai berpikir kembali dan kembali merencanakan hal yang akan ia lakukan. Namun ia butuh waktu untuk menentukan arah di persimpangan jalan. Apakah berbelok kiri atau kanan? Apakah ia mundur?

Depok, 5 September
Di tengah keraguan

Merayu


Kata dituliskan

Kalimat dituturkan

Bermakna untuk dilemparkan ke lawan

Ia tersenyum berpeluh

Penuh arti yang bercabang

Berbaring memandang

Gelagat terasa ditendang

Kemudian berujung senang

***

Semua tampak tertata

Saling melempar kata

Mendapat lara di tubuh

Menjadi bait-bait utuh

Ia terbayang

Melewati ambang

Menuju cakrawala malam

Kemudian jatuh terbenam

***

Jakarta, 4 September

Di depan komputer diiringi sajak Wiji Thukul

Ode Kaum Urban

IMG_9130.JPG

Saya, kamu, dan mereka adalah kaum urban ibukota. Pergi pagi, pulang malam hari. Berbekal doa dari orang tua maupun orang terkasih, kita berangkat menuju ibukota. Menyesaki tiap jengkal tempat duduk. Berdiri tegak menyandang asa. Menyusuri jalan demi roda kehidupan. Mencari sesuap nasi, mengumpulkan pundi-pundi uang untuk eksistensi. Itulah deretan tangga jembatan yang harus ditempuh untuk sebuah kata yang berujar kebahagiaan.

Hari demi hari, tiap manusia selalu memadati jalan. Terus bergerak perlahan demi perlahan. Naik turun dari moda transportasi. Berdesak-desakan di gerbong kereta api listrik. Berjalan di trotoar, kemeja nan licin hasil setrika sang istri menjadi kebanggaan. Juga, celana bahan hitam serta sepatu pantofel. Rambut klimis diatur sedemikian rupa supaya tampak rapi sebagaimana yang disyaratkan. Begitu yang terlihat di kota megapolitan, Jakarta.

Sementara di sisi lain, para pengojek siap menyambar para pekerja. Berteriak-teriak untuk menarik perhatian pelanggan. “Ojek mas, ojek mba, ayo ayo mbak,” begitu ucapnya sambil menyulurkan tangan. Ada juga anak kecil yang menawarkan tisu. Murah harganya dibandingkan biaya pendidikan yang ia cari. Dua buah tisu dihargai lima ribu rupiah. Ada juga para penjual koran yang menawarkan sekelumit berita hasil kerja para wartawan. Ya, mereka bertahan di tengah gempuran modernisasi. Di mana masyarakatkan telah berevolusi ke dunia digital.

Rupiah demi rupiah kita kejar. Hutang dan tabungan seringkali tak akur. Gali lubang tutup lubang adalah ungkapan yang cocok. Untuk makan, sudah syukur alhamdulillah. Belum lagi, kebutuhan eksistensi via media sosial. Path, Twitter, Instagram, Google+, Facebook adalah sedikit dari konsumsi internet kaum urban. Rupiah menjelma menjelma menjadi virus merunduk yang membuat asyik sendiri. Membuat yang jauh menjadi lebih dekat, membuat yang dekat menjadi jauh.

Saya adalah satu dari semua yang terdeskripsikan. Seorang kuli tinta yang bertugas menyampaikan berita. Sama dengan motivasi kaum urban lain yang berangkat dari wilayah penyangga. Mencari-cari makna kehidupan lewat bekerja. Waktu hilang dimangsa ibukota. Dihisap oleh gedung-gedung kaca tinggi. Ditemani udara pendingin ruangan, dilanda sepi. Ya, tanpa bertatap muka dengan orang-orang terkasih. Tenggelam dalam deru mesin kendaraan. Hilang dalam lelap.

Sawangan, Rabu (2 September 2015)
Di tengah kerinduan.

Di Ujung Malam

IMG_7769-0.JPG

Senja tadi sore sudah berakhir. Di ujung penantian, matahari tenggelam di ufuk barat. Semburat jingga berganti. Hilang ditelan sang penguasa malam. Burung-burung beterbangan kembali ke peraduan. Namun sang kelelawar baru memulai petualangannya.

Tadi di salah sudut Universitas Indonesia, saya duduk menyangga dagu bak seorang filsuf Yunani. Namun sayangnya, negara asal para pemikir itu sedang dilanda krisis karena tak mampu membayar hutang. Di bawah rimbunnya pohon, orang-orang berlalu lalang saling melempar senyum. Saya? Cukup tersenyum walau ada pertanyaan, “aku nyebelin ya?”.

Hari ini, dia banyak makan. Tadi bubur dan ayam penyet. Walaupun rencananya, mau makan bersama. Namun, entah kenapa gagal. Sekarang, dia pusing. Itu juga entah kenapa sebabnya. Tadi sempat dia berada di keramaian kantin. Terdengar dari suara yang tak sengaja menyelinap masuk lewat telepon genggam. “Aku lagi di kantin nemenin temen makan,” ucapnya.

Saya masih menunggu. Dia sudah melaju. Berbeda arah. Rasanya timur dan selatan hanya berjarak 90 derajat. Kalau mau bermodalkan ilmu navigasi, saya bisa memotong kompas agar cepat. Cuma itu adalah hal yang berisiko. Layaknya ketika mendaki gunung. Kecelakaan berawal dari kecerobohan manusia bukan dari alam yang kadang dijadikan kambing hitam atas berbagai kecelakaan. Saya tak mau seperti itu. Biarkan ia bernavigasi menuju timur. Saya cukup memantau walaupun cemas kian menghampiri.

Saya berkemeja biru hari ini. Untuk tas masih berwarna merah merek Deuter ukuran 28 liter. Kendaraan? Satu jenis motor tua keluaran tahun 70-an berwarna merah. Katanya, ia suka dengan motor saya. Buat informasi saja, sebelumnya saya pernah punya motor ini tapi hilang pada akhirnya. Sekarang saya akan menjaganya. Seperti saya menjaga ibu saya. Bagaimana pun, motor saya adalah sahabat saya yang setiap hari menemani.

Kembali ke malam. Menuju Jalan Nusantara, mobil-mobil tampak ramai. Di depan Polsek Beji, jalan masih terlihat rusak. Saya memacu putaran mesin. Sistem pegas di motor berusaha meredam guncangan. Para pengendara lain tak bosan-bosannya menekan klakson. Harmoni klakson bersahutan memenuhi ruang udara Kota Depok. Belum lagi polusi yang keluar dari bokong mobil dan motor. Ah sudah, ini ada rutinitas ala kaum urban ibukota. Berangkat pagi lembali malam hanya untuk bertemu orang-orang terkasih.

Akhir-akhir ini, suasana tampak berbeda. Beda pandangan juga beda perasaan. Kadang melankolis yang berakhir nelangsa. Ingin apatis, namun tak bisa. Ingin konformis, itu sulit. Loyalitas terhadap niat adalah kunci tapi realistis juga perlu. Jangan terlalu optimis. Itu sedikit pandangan liar ketika mulai menelusur Jalan Raya Sawangan, Depok. Jalan itu menyambungkan ke arah Cinere dan Parung. Bahkan bisa menuju Bogor dan juga Tangerang. Jalan berliku-liku bak kehidupan yang bergelombang nestapa.

Malam datang bersamaan dengan saya kembali ke peraduan. Ayah, ibu, dan adik sedang berada di rumah. Mereka sibuk masing-masing. Sementara saya, sudah bersantai. Menonton televisi yang penuh dengan hiruk pikuk berita tentang Aurell dan Krisdayanti. Belum lagi tentang kisruh calon pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi yang terjegal masalah kriminal. Ah sudah, memang rumit jika dilihat dari kacamata wong cilik. Biar kan saja. Kamu jangan lupa istirahat di ujung malam ini.

Sawangan, Selasa (1 September 2015)
Di ujung malam menunggu kabar.

Di Sudut Universitas Indonesia

Hari ini dan kemarin, Universitas Indonesia masih tampak sama. Para pengendara motor berlalu-lalang, menara air tetap tegak berdiri, danau-danau juga masih bersampah. Mahasiswa datang dan pergi silih berganti ditandai seremoni paduan suara tenor maupun bass lagu “Gaudeamus Igitur” yang dipimpin oleh Pak Dibyo.

Suatu sore di kala angin bertiup membelai dedaunan di pinggir Danau Puspa, gemuruh suara para anggota Madah Bahana -unit kegiatan mahasiswa marching band di Universitas Indonesia- memenuhi gedung pusat kegiatan mahasiswa. Ya, gedung yang biasa dikenal dengan Pusgiwa, tempat di mana para mahasiswa bergiat dan berkreasi setiap hari bahkan hingga menginap. Di sudut lain, ada pula para anggota Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Indonesia (Mapala UI) sedang membersihkan pekarangan belakang.

Menjelang senja, langit semakin memerah. Beberapa mahasiswa berjalan dengan wajah lelah dengan buku di tangan, mengenakan beraneka bentuk tanda pengenal d dan mengenakan jaket kuning kebanggaan. Bisa ditebak, mereka adalah mahasiswa baru. Mengapa? Karena itulah salah tradisi masa orientasi pengenalan kehidupan kampus.

Buku, pesta, dan cinta. Satu kredo yang digaungkan pihak kampus bahkan hingga tertulis pada lirik Hymne UI. Tiga komponen itu adalah roh para mahasiswa ketika di jenjang kuliah. Buku merepresentasikan proses pembelajaran secara akademik maupun non akademik, pesta menyimbolkan kegiatan bersenang-senang ala mahasiswa dengan segala bentuk kreatifitas, dan cinta adalah bentuk paling hakiki dari manusia.

Kampus rakyat ini telah meninggalkan ribuan, puluhan ribu bahkan jutaan kenangan. Mulai dari demonstrasi penumbangan rezim orde lama, baru, hingga reformasi. Prestasi? Tak perlu disebutkan. Segala sudut lini kehidupan Indonesia, almamater UI hadir. Ah, itu pasti.

Rasanya, sudah cukup mendeskripsikan kampus yang telah menggembleng saya selama enam tahun. Sekarang, saya sedang terduduk di halaman belakang Sekretariat Mapala UI. Menunggu datangnya suara adzan Maghrib. Juga menunggu hal yang tak pasti. Beruntung memang. Semua hal diciptakan berpasangan. Agar merasakan hal yang berbeda. Tak dapat dibayangkan jika dunia hanya ada satu jenis.

Jari jemari tak habis menjadi menuliskan peristiwa. Salah satunya agar terkenang. Di salah sudut Universitas Indonesia, saya menunggu. Hanya sepotong suara yang terpancar dari pesawat telepon dan kemudian masuk ke gendang telinga. Tersiar kabar bahwa jelas sudah hal yang ditunggu tak akan datang. Hingga bahkan matahari mulai menggelayut. Semilir angin menerpa rambut. Mengisahkan belaian tanpa wujud nyata. Seperti zat yang telah sengaja didatangkan dari langit untuk menemani saya di halaman belakang tempat mahasiswa yang gemar bergiat di alam bebas.

Sekarang, jam di tangan telah menunjukkan pukul 17.53 WIB. Layar telepon genggam saling mengadu pandang dengan sepasang bola mata. Dua ibu jari masih lincah menyentuh layar dan tak mengeluarkan bunyi sedikit pun. Paragraf demi paragraf telah tertulis. Adzan mulai berkumandang. Gelak tawa masih menjadi latar suara panggilan untuk menghadap Tuhan YME. Saatnya untuk bergegas mengambil air bersuci dan kembali pulang.

Di salah satu sudut Universitas Indonesia, awal bulan September tahun 2016.

WAP.

IMG_9112.JPG

Wakil Rakyat Bolos, DO atau Jadiin Pegawai Perpustakaan Daerah

Wakil rakyat adalah orang-orang yang telah dipilih oleh rakyat untuk mewakili aspirasinya. Namun beberapa oknum lalai dalam melaksanakan tugasnya. Hal ini cukup menggelitik. Apalagi jika dikaitkan dengan program studi yang saya ambil pada masa kuliah lalu yaitu Ilmu Perpustakaan.

Rapat Paripurna DPR

Ilustrasi Rapat Paripurna DPR

Beberapa hari yang lalu, linimasa akun Twitter saya muncul sebuah kicauan yang tidak mengenakkan. Kicauan tersebut merupakan sebuah kicauan dari tweeps -sapaan bagi para pengguna Twitter- . Bunyinya seperti ini “besok 3x ga ga dateng rapat, DO aja itu wakil rakyat atau jadiin pegawai perpus daerah”. Cukup terkejut saya dibuatnya. Bagi saya yang seorang sarjana Ilmu Perpustakaan, kicauan itu sangat mengganggu saya. Bukan yang pertama kali saya dibuat gusar terkait dengan pernyataan tersebut. Sebelumnya jika masih ingat polemik Anas Effendi ketika masih menjabat Walikota Jakarta Selatan dimutasi menjadi Kepala Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah pada tahun lalu, kasus itu cukup membuat gerah kalangan pustakawan, termasuk saya yang kala itu masih menjadi mahasiswa. (baca beritanya di sini).

Sebelum saya membalas kicauan tersebut, saya menelusuri mengapa tweeps tersebut dapat berkicau demikian. Ternyata dia membalas kicauan yang berbunyi “Inisiatif baru yg keren @WIKIDPR digagas gue rasa karena geram dgn pemandangan seperti ini – Kompas hari ini.” dengan sebuah foto pemandangan ruangan gedung DPR terlihat sepi ketika rapat RUU Panas Bumi (baca beritanya di sini) . Dengan latar belakang tersebut, saya menyimpulkan bahwa wakil rakyat yang disebutkan bermasalah karena tidak hadir rapat. Saya menafsirkan kicauan balasan dari pernyataan tersebut adalah wakil rakyat yang tidak hadir rapat 3x, silahkan di-DO atau mutasi menjadi pegawai perpustakaan daerah. Ini adalah substansi yang saya permasalahkan sebagai seorang yang mempunyai latar belakang ilmu perpustakaan. Apakah pantas wakil rakyat yang bermasalah dimutasi menjadi seorang pegawai perpustakaan daerah? Apa dasarnya pernyataan tersebut?

Kemudian terjadi percakapan antara saya dengan tweeps tersebut. S: Saya , T: Tweeps tersebut

S. “haha pendapatmu ngaco . masa wakil rakyat bermasalah dijadiin pegawai perpus daerah? IQ?” .

Lalu dibalasnya kembali.

T . “coba aja, mereka mau atau engga tukeran jd pegawai perpus, mostly pasti gamau

      “sy ga blg yg ga dtg rapat pengesahan ruu itu bermasalah, sy blg mereka cemen gamau komit sm kerjaan

S. “kenapa? gara2 disebut “lahan kering”? inilah contoh orang yg gak menghargai pekerjaan pustakawan. kamu pernah ke perpus gak?”

T. “loh saya ga maksud ngejelekin pustakawan, sorry kalo tersinggung, tp itu ranah yg beda bgt

     “ya bisa jd sih mereka gamau krn mungkin emg ladang kering, motivasi mah urusan mereka

     “tp saat nyaleg, pasti mereka gamau jd pustakawan yg komit kerja tiap hari kerja dan ga bisa bolos seenak mereka saat rapat ruu

S. “pegawai perpustakaan = pustakawan? Jelas tersinggung. Kamu telah meremehkan profesi pustakawan. Ranah beda? Bs jelaskan?”

Dari percakapan tersebut saya mempertanyakan pernyataannya dan langsung men-judge dia telah meremehkan profesi pustakawan. Yang saya tangkap adalah penjelasan dia tidak sama sekali memuaskan pertanyaan saya. Dia berpendapat bahwa wakil rakyat yang tidak hadir rapat pengesahan RUU itu bermasalah, dia hanya berpendapat bahwa mereka cemen karena tidak berkomitmen terhadap pekerjaan. Saya bertanya-tanya, apakah wakil rakyat yang tidak hadir rapat itu tidak bermasalah? Apakah tidak berkomitmen itu tidak dapat dikatakan tidak bermasalah?. Kemudian, apakah pantas wakil rakyat yang bermasalah dimutasikan menjadi pegawai perpustakaan daerah? Inilah hal yang saya bingungkan.

Sebelumnya marilah kita bahas tentang wakil rakyat di DPR. Menurut UU Nomor 27 tahun 2009, DPR merupakan lembaga perwakilan rakyat yang berkedudukan sebagai lembaga negara. DPR terdiri atas anggota partai politik peserta pemilihan umum yang dipilih melalui pemilihan umum. Sebagai anggota DPR yang notabenenya adalah wakil rakyat, mereka memiliki hak dan kewajiban yang tertuang dalam undang-undang tersebut. Dalam undang-undang tersebut juga dijelaskan dalam pasal 126 tentang Badan Kehormatan yang bertugas melakukan penyelidikan dan verifikasi atas pengaduan anggota yang salah satunya karena tidak menghadiri rapat paripurna dan/atau rapat alat kelengkapan DPR yang menjadi tugas dan kewajibannya sebanyak 6 (enam) kali berturut-turut tanpa alasan yang sah. Menurut BAB IV Ketentuan Dalam Rapat di Pasal 6 point kedua ketidakhadiran anggota secara fisik sebanyak 3 (tiga) kali berturut-turut dalam rapat sejenis, tanpa ijin dari Pimpinan Fraksi, merupakan pelanggaran kode etik. Jadi berdasarkan penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa wakil rakyat yang tidak hadir dalam rapat merupakan pelanggaran kode etik. Dan pelanggaran kode etik adalah sebuah masalah. Berarti wakil rakyat yang tidak hadir dalam rapat adalah sebuah permasalahan.

Pustakawan Berprestasi

Para pustakawan berprestasi tingkat nasional tahun 2013 versi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Sumber

Kemudian marilah kita bahas tentang pegawai perpustakaan daerah. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pegawai adalah orang yg bekerja pd pemerintah (perusahaan, dsb). Istilah pegawai bersifat luas tidak terbatas ke dalam pemerintah, perusahaan atau badan usaha lainnya. Menurut Sulistyo Basuki, perpustakaan daerah termasuk ke dalam perpustakaan umum (1993:47). Perpustakaan umum adalah perpustakaan yang diselenggarakan oleh dana umum dengan tujuan melayani umum (1993:46). Jika Anda berkunjung ke perpustakaan di daerah Anda tinggal, itulah salah satu jenis perpustakaan yang disebut perpustakaan umum. Untuk melaksanakan tugas dan fungsi perpustakaan, dibutuhkan pegawai yang berkualifikasi sesuai dengan pekerjaan yang ada. Pekerjaan yang ada di perpustakaan ada yang bersifat penyelenggaraan administrasi perpustakaan dan pekerjaan yang bersifat kepustakawanan. Pekerjaan yang bersifat administrasi berkaitan dengan keuangan, kepegawaian, dan perlengkapan. Sementara yang bersifat kepustakawanan adalah terkait dengan pengolahan bahan pustaka, pelayanan/sirkulasi, dan pengadaan bahan perpustakaan. Jadi dapat disimpulkan bahwa pegawai perpustakaan dibagi menjadi dua jenis yaitu pustakawan dan non-pustakawan.

Pernyataan yang berbunyi “besok 3x ga ga dateng rapat, DO aja itu wakil rakyat atau jadiin pegawai perpus daerah” bagi saya adalah sebuah bentuk sarkasme terhadap profesi pustakawan. Profesi pustakawan sudah dikenal masyarakat, terutama bagi mereka yang menggunakan fasilitas dan jasa perpustakaan. Diakuinya sebuah profesi tertentu diperlukan beberapa syarat.

Robert W. Richey dalam Arikunto (1990:235) mengungkapkan beberapa ciri-ciri dan juga syarat-syarat profesi sebagai berikut:

  1. Lebih mementingkan pelayanan kemanusiaan yang ideal dibandingkan dengan kepentingan pribadi.
  2. Seorang pekerja professional, secara aktif memerlukan waktu yang panjang untuk mempelajari konsep-konsep serta prinsip-prinsip pengetahuan khusus yang mendukung keahliannya.
  3. Memiliki kualifikasi tertentu untuk memasuki profesi tersebut serta mampu mengikuti perkembangan dalam pertumbuhan jabatan.
  4. Memiliki kode etik yang mengatur keanggotaan, tingkah laku, sikap dan cara kerja.
  5. Membutuhkan suatu kegiatan intelektual yang tinggi.
  6. Adanya organisasi yang dapat meningkatkan standar pelayanan, disiplin dalam profesi serta kesejahteraan anggotanya.
  7. Memberikan kesempatan untuk kemajan, spesialisasi, dan kemandirian.
  8. Memandang profesi suatu karier hidup (alive career) dan menjadi seorang anggota yang permanen.

Jadi jelas bahwa pegawai perpustakaan mencakup pekerjaan yang bersifat kepustakawanan. Sungguh ironi jika sebuah profesi yang juga mempunyai kode etik disamakan dengan wakil rakyat yang bermasalah. Untuk mencetak pustakawan yang berkompeten, sejumlah universitas terkemuka di Indonesia menyediakan program studi terkait perpustakaan. Sebut saja Universitas Indonesia, Universitas Padjajaran, Universitas Diponegoro, Universitas Andalas, Universitas Islam Negeri, Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, dll menyediakan program studi ilmu perpustakaan yang bernaung di bermacam-macam fakultas. Dan bukan main-main untuk dapat masuk ke jurusan tersebut. Calon mahasiswa yang notabenenya siswa yang baru lulus, telah lulus satu atau dua tahun lulus harus bersaing dengan puluhan ribu peserta ujian masuk perguruan tinggi lainnya. Sementara ketika telah menjadi pustakawan, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia juga menyelenggarakan pemilihan pustakawan terbaik tingkat nasional. Pastinya untuk memilih predikat terbaik, diperlukan standar yang ketat dan komprehensif.

Tulisan ini adalah refleksi dari sebuah paradigma negatif terhadap kepustakawanan. Semoga ke depannya, profesi pustakawan dapat lebih dihargai sama dengan profesi lainnya. Karena tidak ada yang dapat menggantikan fungsi perpustakaan walaupun teknologi informasi telah berkembang pesat saat ini. Sejatinya, Ranganathan berpendapat Library is growing organism. Perpustakaan akan terus berkembang dan di balik perkembangan tersebut ada peran sang pustakawan. Dan apakah paradigma bahwa perpustakaan adalah tempat buangan bagi para pegawai negeri yang bermasalah akan terus ada? Semoga tulisan ini dapat membuka pikiran khalayak luas.

 

Sumber

http://megapolitan.kompas.com/read/2013/02/21/15202184/Mutasi.Anas.Tak.Sesuai.UU.Jokowi.Nyatakan.Punya.Alasan

http://news.metrotvnews.com/read/2014/08/26/282838/hampir-separuh-anggota-dpr-tak-hadiri-rapat-paripurna

Sulistyo-Basuki. 1991. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: Gramedia.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 2009 tentang Majelis Permusyawaratan Daerah, Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. 2009. Jakarta: Sekretariat Negara Republik Indonesia.

http://bahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/index.php

 

 

 

 

Memaknai Kemerdekaan Dalam Doa

17 Agustus 1945, Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, Sejarah

Bendera Indonesia berkibar pada tanggal 17 Agustus 1945. Foto: Frans Mendur, Wikipedia.

Tepat 69 tahun yang lalu, Indonesia berhasil melepaskan belenggu penderitaan dari tangan penjajah. Terlepas dari pro kontra bahwa Indonesia dijajah 350 tahun, para pejuang kemerdekaan telah mengorbankan jiwa dan raga demi kemerdekaan. Bambu runcing, senjata rampasan, dan semangat membara menjadi modal berjuang demi Indonesia.

Menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, setiap sudut rumah maupun jalan mendadak ramai dengan warna merah putih. Bendera kebanggaan berkibar dengan gagahnya di halaman rumah. Di ujung jalan-jalan perkampungan disulap menjadi hiasan oleh tangan-tangan kreatif. Acara-acara berbau perayaan dibuat dengan meriah mulai dari lomba-lomba, pengibaran bendera di puncak tertinggi maupun di dasar laut.

Kemeriahan khas Hari Kemerdekaan Republik Indonesia bak hal yang wajib dilakukan setiap tahunnya. Demikian pun dengan saya. Gelak tawa tenggelam dalam euphoria nasionalisme dipupuk sejak kecil. Nasionalisme ditumbuhkan lewat perlombaan balap karung, memasukkan jarum ke botol, hingga lomba makan kerupuk. Namun tahun ini saya mengalami pengalaman yang berbeda dengan kebiasaan yang ada.

Saya tinggal di daerah Depok. Tepatnya di Kecamatan Rangkapan Jaya. Di sini saya telah tinggal dua tahun. Dua kali Hari Kemerdekaan Republik Indonesia telah saya alami di daerah yang tak terlalu ramai ini. Pun dua kali Hari Raya Idul Fitri juga telah saya nikmati.

Jum’at malam saya diberitahu oleh ibu bahwa esok hari warga-warga yang tinggal di sekitar rumah akan berkumpul. Ibu berpesan jangan sampai tak datang. Lewat ponsel pintar, pesan saya kirimkan ke ibu, “Ok bu.”

16 Agustus 2014 jatuh pada hari Sabtu. Dini hari saya kembali dari rumah. Terlanjur diserang kantuk, saya rubuh. Tengah hari, saya bangun. Alih-alih mencari ibu, saya turun. Ibu terlihat sedang menggoreng kerupuk.

“Buat apa bu goreng krupuk?” tanya saya dari dalam kamar mandi.

“Buat acara nanti malem. Kamu jangan lupa datang.” jawab ibu sambil membalik kerupuk ikan agar tak gosong.

Magrib pun tiba. Saya segera mandi dan bergegas menyusul ibu dan bapak yang telah terlihat sibuk di depan rumah. Alunan lagu dangdut terdengar. Satu persatu warga mulai datang. Pria-pria ada yang memakai baju koko, sementara perempuan ada yang memakai baju muslim lengkap dengan kerudungnya. Tua dan muda bergabung. Anak-anak kecil berlarian di jalan yang cukup sepi. Tampak keriangan menjalar di anak-anak tersebut.

“Halo Mas. Apa kabar?” tanya saya ke seorang tetangga yang sedang asyik merokok.

“Baik. Gak kerja hari ini?” tanya balik ke saya.

“Hehehe. Lagi gak kerja Mas.” jawab saya mencairkan suasana.

“Ayo mari masuk.” ajaknya masuk.

Sebuah rumah yang baru dibangun dan belum ditempati disulap menjadi tempat berkumpul.  Saya pun masuk. Tetiba suasana hening. Riuh anak-anak tiba-tiba hilang. Semua duduk bersimpuh di atas tikar yang telah disiapkan.

“Assalamualaikum warahmaturallahi wabarokatuh. Selamat malam bapak-bapak, ibu-ibu, dan adik-adik. Esok hari, 17 Agustus 2014 kita memperingati hari kemerdekaan Indonesia. Marilah kita panjatkan doa untuk para pejuang-pejuang kita yang telah gugur membela Indonesia. Al-Fatihah.” ucap Pak Eko membuka acara kumpul warga.

Pak Eko melanjutkan dengan membaca Surat Al-Baqarah yang diikuti oleh warga-warga. Saya akhirnya tahu acara ini. Tujuan berkumpulnya warga-warga di sekitar rumah saya adalah berdoa untuk para pejuang Indonesia. Suasana pun menjadi hikmat. Kepala-kepala tertunduk sambil mulut mengucap ayat-ayat Al-Qur-an.

“Astagfirullah alazim. Astagfirullah alazim. Astagfirullah alazim.” Pak Eko melafalkan istigfar.

Saya merinding ketika setiap doa terucap. Sempat terpikir jika para pejuang mendengar di dalam alam barzah. Bagaimana reaksinya ketika doa terkirim. Pastinya akan senang.

“Alhamdulillahirabbil alamin. Arrahmanirahhim….” untaian Surat Al-Fatihah dilafalkan sebelum menutup acara doa bersama.

“Semoga doa-doa yang kita kirimkan, diijabah oleh Allah SWT” kata Pak Eko menutup acara.

“Amiiinnn.” ucap warga-warga serentak.

Acara doa bersama ini ditutup dengan makan bersama. Makanan-makanan dibawa secara sukarela oleh para warga. Sungguh kebersamaan yang luar biasa. Semua lahap menyantap makanan yang seadanya dihidangkan. Anak-anak tak mau kalah. Mereka makan bersama para orangtuanya.

Bagi saya yang hidup hampir seperempat abad ini, bentuk perayaan kemerdekaan seperti ini adalah hal yang baru. Hampir setiap tahunnya dulu saya hanya mengikuti lomba-lomba dan pengibaran bendera. Saya bangga. Terima kasih para pejuang kemerdekaan. Semoga arwahmu diterima di tempat terbaik di sisi-nya. Jasamu abadi!